alexametrics

Pesawat Kemanusiaan Kloter 2 dan 3 Siap Antarkan Pengungsi Wamena

4 Oktober 2019, 21:15:55 WIB

JawaPos.com – Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali memberangkatkan 89 pengungsi Wamena menggunakan pesawat komersil pada Jumat (4/10) pagi. Pesawat Kemanusiaan, buah kolaborasi dengan Garuda Indonesia, mengantarkan para pengungsi ke kampung halaman mereka di Sumatra Barat.

Keberangkatan pengungsi dibagi menjadi dua jadwal keberangkatan, yakni 62 pengungsi pada pukul 07.20 WIB dan 27 pengungsi pada pukul 07.55 WIB. Wahyu Novyan selaku Komandan Posko Nasional ACT untuk tragedi kemanusiaan Wamena mengatakan, ini adalah kali kedua ACT memfasilitasi pemulangan pengungsi ke Sumatra Barat pada Kamis (3/10) malam.

ACT pun telah memfasilitasi penerbangan 128 pengungsi dari bumi cendrawasih itu. “ACT memfasilitasi pemulangan pengungsi dengan pesawat terbang komersil. Total sudah lebih dari 200 pengungsi yang kami akomodasi ke Sumatra Barat. Kami juga akan berikhtiar memfasilitasi pemulangan pengungsi ke Jawa Timur dan Sulawesi Selatan,” terang Wahyu, Jumat (4/10).

Pengungsi yang diberangkatkan hari ini mengungsi di Posko Ormas Adat Minahasa dan Posko Masjid Al Aqsa, Sentani. Pesawat pertama tiba di Jakarta sekitar pukul 11.40 WIB dan pesawat kedua tiba pukul 14.00 WIB. Tim medis ACT pun hadir mendampingi mereka.

“Rata-rata anak-anak mengalami demam dan satu orang tadi mengalami mimisan sudah kita tangani. Sebagian besar mereka mengalami kelelahan,” terang dr. Rizal Alimin selaku Koordinator Tim Medis ACT.

Langkah ACT memfasilitasi kepulangan pengungsi merupakan ikhtiar memenuhi kebutuhan pengungsi akan tempat berlindung yang lebih nyaman. Wahyu mengatakan, sejauh ini tingginya permintaan pengungsi masih terkait kepulangan ke daerah asal. “Di sini kami melihat, kepulangan ke daerah asal menjadi kebutuhan para pengungsi. Hal itulah yang kami fasilitasi,” tambah Wahyu.

Diketahui tim medis masih disiagakan untuk memberikan layanan kesehatan kepada pengungsi. Dapur umum ACT juga akan diaktifkan untuk menyuplai sarapan para pengungsi di Rindam Sentani.

Editor : Bintang Pradewo



Close Ads