alexametrics

AJI Surabaya Kecam Hongkong yang Deportasi Pekerja Migran Yuli Riswati

3 Desember 2019, 13:15:04 WIB

JawaPos.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mengecam keras deportasi yang dilakukan pemerintah Hongkong terhadap Yuli Riswati alias Yuli Arista, buruh migran yang juga seorang jurnalis warga. Sebelum dideportasi, pemerintah Hongkong melalui pihak imigrasi menjebloskan Yuli ke tahanan Pusat Imigrasi Castle Peak By selama 28 hari.

Penahanan yang kemudian berujung deportasi ini diduga dilakukan pemerintah Hongkong karena aktivitas jurnalistik yang dilakukan Yuli. Perempuan yang sudah 10 tahun menjadi buruh migran di Hongkong itu memang rutin melakukan reportase, baik tulisan maupun foto langsung dari titik demonstrasi di Hongkong yang sedang marak.

Baca juga: Diduga Dukung Demonstran Hongkong, Pekerja Migran Indonesia Ditahan

Informasi-informasi yang disampaikan Yuli sangat bermanfaat bagi semua orang yang ingin mendapatkan informasi terkait apa yang sebenarnya terjadi di Hongkong. Yuli menyajikan informasi dari narasumber yang ada di lokasi ketimbang hanya informasi dan peringatan yang diberikan perwakilan Indonesia dalam hal ini KJRI Hongkong.

Aktivitas jurnalisme warga yang dilakukan Yuli dianggap berbahaya oleh otoritas Hongkong. Yuli menyajikan semua informasi yang didapatnya melalui media alternatif bernama Migran Pos yang digagasnya bersama sejumlah pekerja migran. Apa yang dialami Yuli menjadi bukti semakin buruknya kebebasan berekspresi di era demokrasi. Sebelum membuat media sendiri, Yuli tercatat sebagai kontributor SUARA, media lokal berbahasa Indonesia di Hongkong.

Yuli ditangkap pada 23 September 2019. Dia lantas banding dan pada 4 November, pengadilan menyatakan Yuli tidak bersalah karena minimnya bukti yang diajukan kepolisian. Namun, pihak berwenang di Hongkong mencari celah agar bisa menghentikan aktivitas Yuli. Yuli pada akhirnya dituduh melewati masa izin tinggal.

Menurut Yuli, masalah izin tinggal sebenarnya bersifat adiminstratif dan bisa diselesaikan dengan pengajuan izin. Apalagi, majikannya juga melakukan pembelaan. Namun, pihak berwenang malah menjebloskannya ke tahanan. “Saya diperlakukan seperti kriminal. Mereka melanggar aturan yang mereka buat sendiri,” ujar Yuli seperti dalam rilis AJI Surabaya yang diterima JawaPos.com.

Yuli mengaku diperlakukan tidak manusiawi. Tahanan imigrasi, menurutnya, lebih buruk dari tahanan atau penjara kriminal. “Pertama, kasus saya bukan sebuah kasus yang biasa. Saya ditahan dengan alasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di Hongkong. Kedua, dalam penahanan saya ada banyak kejanggalan dan saya juga menemukan teman-teman saya. Kami bukan kriminal tetapi diperlakukan lebih dari orang-orang yang ada di penjara,” imbuhnya.

Sebelumnya, jurnalis Indonesia, Veby Mega Indah, tertembak matanya. Veby dilaporkan mengalami kebutaan setelah terkena peluru karet dari polisi Hongkong. Veby terkena tembakan saat meliput demonstrasi berunjukan bentrokan pada 29 September 2019.

AJI Surabaya ikut menjemput Yuli saat tiba di Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo pada Senin (2/12). Saat ini, Yuli berada di lokasi aman dan masih dalam proses pemulihan kesehatan.

Editor : Edy Pramana



Close Ads