
Ilustrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kondisi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian pemerintah, usai konflik antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel kembali memanas belakangan ini.
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur Gimbar Ombai Helawarnana mengatakan, ada sekitar 7.000 PMI asal Jatim yang berada di kawasan Timur Tengah selama lima tahun terakhir.
Ia memastikan ribuan PMI yang berada di Timur Tengah tetap terpantau. Untuk memastikan komunikasi tetap lancar, BP3MI menyiapkan layanan hotline 24 jam, yang bisa diakses oleh PMI di luar negeri.
“Mayoritas Arab Saudi hingga mencapai angka 3.994 PMI. Jika spesifik bicara negara-negara di atas, tidak tercatat penempatan ke negara Israel maupun Iran sebagai PMI legal selama 5 tahun terakhir," ucapnya, Senin (9/3).
Baca Juga: Konflik Iran VS AS - Israel Memanas, 7.000 PMI Asal Jatim Tercatat Berada di Timur Tengah
Sementara bagi calon PMI penempatan kawasan Timur Tengah, yang sedang menunggu waktu keberangkatan, Gimbar menyebut pemerintah membuka opsi moratorium atau penghentian sementara.
“Bicara mengenai penempatan, sebenarnya sejak 2015 terdapat moratorium PMI melalui Kepmenaker RI nomor 260 tahun 2015 tetang penghentian dan pelarangan penempatan TKI pada pengguna perseorangan di negara-negara kawasan Timur Tengah,” lanjutnya.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia juga secara jelas melarang penempatan pekerja migran (PMI) ke negara tertentu yang dinyatakan tertutup.
“Pada pasal 72 ayat B dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017, dijelaskan bahwa setiap orang dilarang menempatkan calon pekerja migran ke negara yang dinyatakan tertutup,” tegas Gimbar.
Dalam regulasi yang sama, penempatan PMI dilarang ke negara yang tidak punya aturan perlindungan tenaga kerja asing, tidak memiliki kerja sama dengan Indonesia, atau tidak menyediakan jaminan sosial bagi pekerja migran.
“Bapak Menteri Mukhtarudin juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa KP2MI telah menyiapkan opsi penghentian sementara penempatan ke wilayah berisiko apabila terjadi eskalasi konflik,” bebernya.
Langkah tersebut dilakukan guna menjamin keamanan calon pekerja migran Indonesia (PMI) yang berencana bekerja di wilayah yang berisiko konflik atau kondisi berbahaya, seperti di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah juga membentuk tim khusus untuk memantau situasi geopolitik. Jika konflik meluas, ada skenario evakuasi dan perlindungan bagi PMI yang terdampak, termasuk repatriasi melalui Bandara Juanda.
“BP3MI tentunya siap menerima repatriasi dan juga memfasilitasi kepulangan (pekerja migran indonesia penempatan kawasan Timur Tengah) sampai daerah asal saat ketibaan PMI di Bandara Juanda,” tukas Gimbar.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
