
Kondisi alur sungai usai diterjang banjir bandang di Batu Busuk, Padang, Sumatera Barat, Jumat (19/12/2025). (Kurniawan Mas
JawaPos.com - Dampak dari bencana banjir bandang (galodo) pada akhir November 2025 lalu masih dialami masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), khususnya di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di sana, para petani dan peternak selain mengalami kerusakan rumah terkendala berat untuk bangkit dalam usaha mereka.
Para petani dan peternak di dua kelurahan, Lubuk Minturun dan Sungai Lareh, mengalami lahan pertanian mereka ketika itu tertimbun lumpur banjir bandang dan akses irigasi terganggu. Begitu dengan peternak sapi dan kambing mengalami penurunan produktivitas.
Atas kendala itu, Universitas Andalas (Unand) Kota Padang menurunkan tim pemulihan dari Program Mahasiswa Berdampak Fakultas Peternakan. Tim itu diketuai Fitrimawati. Dia melibatkan dua dosen dari Fakultas Peternakan dan 50 mahasiswa lintas departemen di Fakultas Peternakan sebagai pelaksana lapangan.
Fitrimawati mengatakan, timnya melibatkan dua kelompok mitra utama dalam Program Mahasiswa Berdampak. Yaitu, Kelompok Tani Harapan Nan Duo Puluah dan Kelompok Wanita Tani Lubuk Ramang. Masing-masing kelompok tani beranggotakan sekitar 20 orang. Sebagian anggota memelihara sapi potong dan sebagian lainnya mengembangkan usaha ternak kambing skala kecil.
"Pascabencana, mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan pakan, manajemen usaha yang masih tradisional, hingga belum optimalnya pengelolaan limbah ternak," ungkap Fitrimawati kepada JawaPos.com pada Kamis (19/2).
Adapun kehadiran tim Program Mahasiswa Berdampak melakukan pendekatan pemberdayaan berbasis sistem usaha tani terpadu. Pendekatan itu terintegrasi antara peternakan, pertanian dan pengelolaan limbah ternak.
Fitrimawati menjelaskan, mahasiswa bersama tim dosen memperkenalkan sistem agrosilvopastural, yaitu integrasi tanaman pangan, tanaman kehutanan, dan peternakan dalam satu kawasan lahan. Berbagai hijauan pakan seperti rumput gajah, odot, lamtoro, dan indigofera ditanam secara terpadu. Pakan itu ditanam dengan tanaman pangan seperti jagung, kacang panjang, dan singkong.
Sistem itu bertujuan menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun serta memperbaiki kesuburan tanah pascabanjir. Selain itu, diterapkan teknologi pakan fermentasi (silase) untuk mengatasi fluktuasi ketersediaan hijauan.
Upaya pemulihan tidak berhenti pada penyediaan pangan, pakan dan perbaikan lahan. Tim mahasiswa melihat, tumpukan limbah ternak yang sebelumnya dianggap persoalan justru dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok. "Mahasiswa memperkenalkan sistem produksi pupuk organik terstandar menggunakan mesin penggiling pupuk organik," terangnya.
Sementara itu, mahasiswa membantu mendesain merek dan kemasan agar memiliki daya tarik pasar. Produk pupuk kini memiliki identitas dan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Media sosial mulai digunakan untuk promosi produk pupuk organik dan ternak. Konten dibuat secara kreatif oleh mahasiswa sehingga dapat memperluas jangkauan pasar hingga luar wilayah Lubuk Minturun.
Imana Martaguri, dosen dari tim Program Mahasiswa Berdampak, menambahkan bahwa dalam kurun waktu satu bulan, timnya sudah mampu memberikan hasil yang terukur. Yakni, demplot agrosilvopastura mulai dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi anggota, dan sumber hijauan pakan ternak. Pakan fermentasi tersedia secara rutin setiap dua minggu. Produk pupuk organik telah dikemas dan mulai dipasarkan ke toko pertanian serta pelaku usaha tanaman hias di wilayah Lubuk Minturun.
"Kami tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan usaha masyarakat. Tim pelaksana Universitas Andalas berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar model pemberdayaan ini dapat berkembang menjadi usaha kelompok yang mandiri dan berdaya saing," beber Imana Martaguri.
Imana menyebut, mahasiswa tidak datang sebentar lalu pergi tanpa jejak. Mereka bekerja, berkotor-kotor, dan memastikan kelompok tani mampu menjalankan semua proses secara mandiri sebelum program berakhir.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
