
Ketua Umum PBNU masa khidmat 2015-2021 Said Aqil Siradj usai menghadiri rapat pleno Muktamar NU di UIN Raden Intan, Lampung, Kamis (14/12/21). Rapat pleno Muktamar NU ke-34 beragendakan pembacaan LPJ oleh pengurus PBNU 2015-2021. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS
JawaPos.com - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj memberikan penjelasan, terkait alasan dirinya meminta agar tambang yang diberikan oleh pemerintah pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk dikembalikan. Sebab, pemberian izin usaha pertambangan (IUP) itu banyak menimbulkan kerugian bagi PBNU dan kelestarian lingkungan.
"Mudaratnya kalau menusut Tafsir ini ya, menyangkut keselamatan jiwa, lingkungan, ekosistem tanah atau bumi, dan dikhawatirkan menimbulkan kefasekan yang artinya orang itu berperilaku semena-mena, maksiat, sampai kekufuran," kata Kiai Said Aqil Siradj dalam sebuah siniar Youtube, Kamis (11/12).
Ia mengamini, pemberian IUP itu diterima saat dirinya masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, pada 2017. Menurutnya, ia menduga awalnya pemberian tambang itu sebagai apresiasi dari pemerintah kepada ormas-ormas yang telah berjasa bagi negara.
"Pertama, saya dulu mendengar Pak Jokowi memberikan cost tambang kepada ormas, saya sambut gembira, barangkali itu merupakan penghargaan kepada ormas yang dulu berjuang sebelum lahirnya NKRI, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. (Bentuk) apresiasi," ujarnya.
Namun, Kiai Said menyatakan setelah melakukan perenungan dan berpikir objektif, pemberian IUP kepada ormas lebih banyak mudaratnya daripada nilai baik. Salah satunya, soal keributan yang terjadi antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Chlil Staquf dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Menurutnya, Gus Ipul yang justru mendapat bekingan dari Rais Aam.
"Itu juga menjadi keretakan antara Ketua Umum dengan Sekjen, yang Sekjen dibelakangnya ada Rais Aam," tegasnya.
Ia tak memungkiri, pemberian IUP itu kini memunculkan ketegangan di internal PBNU. Ia pun mencotohkan terjadinya perang saudara di negara-negara lain akibat pertambangan.
"Jelas sekali madaratnya pada ormas, yaitu melahirkan ketegangan. Apalagi kalau kita lihat, di negara Bolivia, Venezuela, Nigeria, yang tadinya bersatu kompak perang saudara gara-gara tambang. Masa kita nggak bisa mengambil pelajaran seperti itu. Jadi kelihatannya ada kemaslahatan, kebaikan, nyatanya belum sampai kesana sudah pecah," cetusnya.
Karena itu, Kiai Said menyarankan agar IUP yang diterima oleh PBNU untuk dikembalikan ke pemerintah. Sebab, pemberian tambang itu merupakan jebakan agar ormas-ormas tidak bisa mengkritik atau memberi masukan kepada pemerintah.
"Oleh karena itu, menurut pendapat saya kembalikan, sebagai Mustasyar PBNU," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022