
Ketua Umum Partai Golkar Erlangga Hartarto bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PPP Mardiono memberikan keterangan kepada wartawan di kediaman Erlangga di Jakarta, Kamis (27/4/2023). Pertemuan ini merupakan silaturahmi. FOTO : FEDRIK TARIG
JawaPos.com – Pembentukan poros keempat yang diwacanakan Partai Golkar dan PAN bisa mengubah konstelasi politik nasional. Jika dua partai itu mengusung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sendiri, mereka akan mendapat keuntungan elektoral. Keduanya juga tidak akan menjadi sekadar parpol pengekor atau pendompleng dalam Pilpres 2024.
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini kemarin (27/5) mengatakan, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) hampir bubar karena PPP sudah menyeberang ke PDI Perjuangan (PDIP) dan ikut mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres. Menurut dia, sebenarnya tempat PPP bukan di situ. Sebab, arus bawah PPP berkiblat ke capres lain.
Menurut Didik, itu merupakan ketidakstabilan baru di PPP. Setelah Presiden Joko Widodo tidak lagi menjabat, dia memprediksi terjadi keributan kembali di internal PPP. "Karena perubahan kepemimpinan PPP adalah pesanan dari luar," ungkap alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.
Didik menuturkan, momentum transisi itu menjadi peluang besar bagi Golkar dan PAN untuk membentuk poros keempat demi memperkuat ketahanan partai. Jika Golkar-PAN tidak berkoalisi dan hanya menjadi pengekor parpol lain, mereka tidak akan mendapatkan tambahan suara, kecuali memperoleh jatah menteri di kemudian hari.
Didik menjelaskan, Partai Golkar pernah besar dan menjadi partai paling stabil. Golkar sebenarnya berkehendak untuk membuat debut sendiri dan mengusung capres. Sebab, hal itu diharapkan berdampak pada elektabilitas partainya. Ini menjadi peluang untuk berkiprah mengusung pasangan sendiri. "Sehingga bisa membuat peta politik baru menjadi empat pasangan. Koalisi baru Golkar-PAN cukup untuk mengusung capres," ucapnya.
Didik menegaskan, jika Golkar dan PAN bergabung dengan koalisi lain dan ikut mengusung Prabowo, keduanya hanya akan menjadi partai pengekor. Dampak positif dari koalisi itu hanya akan dinikmati Partai Gerindra. "Golkar dan PAN tidak mendapat apa-apa dalam hal votes, kecuali jatah menteri. Itu pun jika menang," urainya.
Jadi, saat ini merupakan kesempatan besar bagi Golkar, PAN, dan partai tengah lainnya untuk berkiprah mengusung calonnya sendiri. Jika Golkar mengusung ketua umumnya, Airlangga Hartarto, dinamika partainya akan hidup selama pilpres daripada mengusung kader partai lain. Wakil dari kader PAN bisa bergabung dengan Golkar.
Didik menyatakan, koalisi yang lebih tersebar menghindari dominasi kekuasaan yang otoriter seperti sekarang ini. Saat ini koalisi 82 persen di parlemen membuat demokrasi terancam dengan wajah pemerintah dan aparat yang sudah otoriter.
Tentu, strategi koalisi dengan poros baru keempat akan membuat pilpres berjalan dua tahap, masuk ke putaran kedua. Dua pasangan akan lanjut, sedangkan partai-partai kalah yang berada di posisi ketiga dan keempat akan berhitung lagi dengan pembentukan koalisi baru. ’’Golkar dan PAN tidak akan kehilangan kesempatan berkiprah di putaran kedua ini,’’ paparnya.
Didik menambahkan, Partai Golkar dan PAN bisa menjajal ikut pesta demokrasi di pilpres, sehingga akan mengambil keuntungan elektabilitas partai. ’’Jadi, inisiatif poros keempat bisa dikatakan rasional. Dilihat dari kepentingan partai-partai yang terus bersaing satu sama lain,’’ tandasnya. (lum/c18/oni)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022