
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menjelaskan dukungan orrganisasinya dalam pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto saat ditemui di Jakarta, Kamis (6/11). (Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy memastikan pihaknya mendukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto.
Menurut dia, keputusan ini sama seperti saat Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap pemberian gelar pahlawan kepada Presiden pertama RI Soekarno.
"Muhammadiyah intinya mendukung penuh pemberian gelar pahlawan kepada Pak Harto, dan itu juga yang sudah dilakukan Muhammadiyah ketika Bung Karno mau diberi gelar pahlawan pada tahun 2012," kata Muhadjir saat ditemui di Jakarta, Kamis (6/11).
Ia menyebut, Soeharto mempunyai jasa besar bagi perjalanan bangsa Indonesia. Bahkan, Soeharto pernah menyatakan bahwa dirinya mempunyai pengalaman khusus dengan Muhammadiyah.
"Pak Harto itu pada waktu menyambut Muktamar tahun 1985 di Banda Aceh, itu terang-terangan beliau menyampaikan adalah bibit Muhammadiyah," tegasnya.
"Sebagaimana juga Bung Karno. Bung Karno itu juga kader Muhammadiyah, karena pernah menjadi Ketua Majelis Pengajaran di Bengkulu, waktu beliau itu pengasingan," sambungnya.
Ia tak memungkiri, rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto menimbulkan pro dan kontra.
Menurut dia, setiap pemimpin mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, ia mengimbau agar publik melihatnya secara objektif.
"Kita harus melihat secara objektif, seimbang. Saya kira Pak Harto ini punya peran yang luar biasa terutama pada waktu dia masih menjadi tentara pelajar, kemudian memimpin operasi perang fisik waktu itu terutama di waktu serangan umum di Jogja," tegasnya.
"Kemudian pada waktu Irian perang merebut Irian Barat dia adalah komandan operasi Mandala. Kemudian pada waktu kita berada dalam krisis yang sangat berisiko tinggi terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa yaitu G30S PKI, beliau juga adalah sebagai penyelamat bangsa," jelasnya.
Lebih lanjut, Muhadjir menganalogikan bahwa Soekarno merupakan penggali Pancasila, sementara Soeharto merupakan pemimpin yang mampu menegakkan Pancasila.
"Kalau Bung Karno itu sebagai penggali Pancasila, Pak Harto lah yang menegakkan Pancasila sebagai satu-satunya asas sampai sekarang akhirnya kemudian diterima oleh seluruh bangsa Indonesia," pungkasnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
