Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 14.59 WIB

Cerita Siswa-Siswi SMP Negeri 75 Jakarta Mendapatkan MBG: Tubuh Saya Jadi Sehat dan Segar

Suasana kegiatan siswa-siswi SMPN 75 Jakarta, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. (Dimas Choirul/JawaPos.com) - Image

Suasana kegiatan siswa-siswi SMPN 75 Jakarta, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. (Dimas Choirul/JawaPos.com)

JawaPos.com - Di ruang kelas SMP Negeri 75 Jakarta, suasana belajar pagi itu tampak lebih hidup. Di antara para siswa yang duduk serius mencatat pelajaran, terselip kisah sederhana tentang bagaimana sepiring makanan bergizi mampu mengubah keseharian mereka. Sejak 6 Agustus 2025 lalu, sekolah ini mulai melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Ada 683 peserta didik. Kelas 7, 8, 9,” ujar Plt Kepala Sekolah SMP Negeri 75 Jakarta, Gunawan Achmad kepada JawaPos.com, Jumat (12/9).

Selama lebih dari sebulan berjalan, ia menuturkan bahwa program ini tidak menemui hambatan berarti. “Sejauh ini sepengetahuan saya tidak ada,” katanya singkat. Namun, di balik kesederhanaan jawaban itu, manfaat program terasa nyata bagi banyak siswa.

Gunawan menyebut hampir separuh siswa SMP Negeri 75 adalah penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP). “Separuh dari jumlah peserta didik, hampir ya. Dan pada umumnya, mereka itu kan secara ekonomi kurang. Karena sudah melewati 18 seleksi. Ada 18 kriteria untuk mendapatkan KJP ini,” terangnya.

Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang terbatas, keberadaan MBG menjadi oase di tengah kesulitan. “Dengan adanya MBG ini, sedikit banyak orang tua pasti terbantu. Minimal mengurangi uang jajan,” kata Gunawan.

Plt. Kepala Sekolah SMPN 75 Jakarta, Gunawan Achmad. (Dimas Choirul/JawaPos.com)

Lebih dari sekadar soal perut kenyang, MBG membawa harapan lain: masa depan anak-anak yang lebih sehat. “Kita harus akui bahwa yang namanya kecukupan gizi ini kan sangat berbanding lurus dengan pertumbuhan fisik maupun perkembangan otaknya,” jelasnya.

Menu yang disajikan pun beragam, disiapkan langsung oleh dapur gizi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan tenaga ahli.

“Jujur ya, kalau kami di pihak sekolah mungkin tidak ada ahlinya untuk mengukur kecukupan gizinya. Tapi di dapur gizi itu sendiri kan ada, sudah ada ahli gizinya. Yang otomatis kecukupan gizinya jelas-jelas sudah dihitung,” ujarnya.

Meski selera anak-anak berbeda-beda, sebagian besar siswa tetap menikmati. Sebab, menu selalu berganti setiap hari sesuai masukan dari sekolah.

Kisah kecil tentang manfaat MBG juga datang dari Rafli, siswa kelas 8. Senyum tipisnya muncul ketika ditanya soal makanan gratis di sekolah. “Enak makanannya, iya. Pengeluaran saya jadi gak terlalu boros lah. Selain itu manfaatnya tubuh saya jadi lumayan segar gitu,” ucapnya.

Remaja tanggung yang bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut ini juga merasa program MBG membuatnya lebih bersemangat belajar. “Harapannya dengan adanya program MBG ini bisa lebih segar badannya terus sama otaknya juga lebih fresh,” katanya.

Di ruang-ruang kelas, di antara buku-buku pelajaran IPS—mata pelajaran favorit Rafli—terlihat bahwa program MBG bukan sekadar menu makan siang. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang anak-anak menuju masa depan, dengan tubuh lebih sehat dan pikiran lebih segar.

Perluas Jangkauan

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain. Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan. Kemkomdigi siap menjadi penghubung agar sinergi ini berdampak nyata bagi masyarakat.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore