Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 01.59 WIB

Kejagung Gandeng Paskomnas, Tahap Awal Jaga Desa Tanam Bawang Merah

Plt Asintel Kejati Banten Aditya Rakatama didampingi Dirut Paskomnas Hartono menjelaskan program Jaga Desa di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Banten, Rabu (16/7). (Zalzilatul Hikmia/jawa Pos) - Image

Plt Asintel Kejati Banten Aditya Rakatama didampingi Dirut Paskomnas Hartono menjelaskan program Jaga Desa di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Banten, Rabu (16/7). (Zalzilatul Hikmia/jawa Pos)

JawaPos.com – Program ketahanan pangan Jaksa Garda Desa (Jaga Desa) yang digagas Kejaksaan Agung (Kejagung) terus bergulir. Sebanyak empat kabupaten di Provinsi Banten terlibat dalam program yang bertujuan mendorong desa-desa untuk mandiri itu. Empat pemda itu adalah Kabupaten Tangerang, Serang, Pandeglang, dan Lebak.

Plt Asisten Intelijen (Asintel) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten Aditya Rakatama mengungkapkan, pihaknya telah mengadakan rapat teknis dengan empat pemda di Banten. Dari pertemuan tersebut, terungkap sejumlah kendala dan kekhawatiran pemda mengenai rencana pelaksanaan program ketahanan pangan.

Misalnya, ada keluhan soal BUMDes yang ternyata tidak sepenuhnya aktif. Ada pula keluhan soal SDM BUMDes yang dirasa kurang. Muncul juga kekhawatiran mengenai penggunaan dana desa yang sudah dianggarkan untuk sejumlah program pertanian dan peternakan lain sebelum adanya intervensi program pengaturan pola tanam yang disampaikan oleh PT Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia.

”Makanya kita punya Jaga Desa, artinya Jaksa Garda Desa. Nah itu, kita fungsinya mengawal penggunaan dana desa. Permendes 2 tahun 2024 kan sudah mengamanahkan bahwa 20 persen dari nilai dana desa dipergunakan untuk ketahanan pangan.

Artinya, kita harus bisa memastikan bahwa dana 20 persen tadi dipergunakan sebagaimana mestinya,” paparnya di sela-sela Rapat Tindak Lanjut Program Jaga Desa Provinsi Banten di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (16/7).

Dalam rapat teknis itu dijelaskan secara rinci mengenai timeline penanaman komoditi utama di empat kabupaten/kota ini. Kapan mereka mulai menanam hingga pengiriman pasokan ke Pasar Induk Tanah Tinggi Kota Tangerang.

Menurut Raka, sapaan akrabnya, akan ada rapat lanjutan pada akhir Juli mengenai kesiapan lahan dari empat pemerintah kabupaten tersebut. Baik itu soal lokasi, luasan, hingga BUMDes yang terlibat. Setelah itu, Telkom University akan mengecek unsur hara lahan untuk memastikan lahan tersebut butuh pupuk atau tidak. Kebutuhan ini akan dikoordinasikan dengan PT Pupuk Indonesia.

Sebagai tahap awal, komoditi yang ditanam adalah bawang merah. Penanaman menggunakan TSS bawang merah yang dinilai akan ekonomis. Direktur Utama Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Hartono Wignjopranoto meyakini program Jaga Desa bisa meningkatkan penghasilan para petani. Karena itu, butuh keseriusan dan kerja sama semua pihak, khusus nya pemerintah daerah dalam pelaksanaannya.

Apalagi, saat ini, dari potensi Banten yang begitu besar, pasokan komoditi yang ada di pasar induk itu hanya sekitar 5 persen dari sekitar 3.000 sampai 3.500 ton. Yang mana, kebanyakan pasokan ini berasal dari luar Banten. “Padahal, menurut kami, minimum bisa 20 persen yang bisa dipasok dari Banten,” ujarnya. (mia/oni)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore