
Ketua DPR RI, Puan Maharani, membuka Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2024–2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/6).
JawaPos.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah membentuk Tim Supervisi untuk mengawal proyek penulisan ulang sejarah yang tengah dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI). Pembentukan tim ini dilakukan sebagai respons atas berbagai kontroversi yang mencuat dalam proses penulisan ulang sejarah tersebut.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan proyek penulisan ulang sejarah harus dilaksanakan secara transparan dan berdasarkan fakta sejarah yang utuh. Ia mengingatkan agar tidak ada satu pun jejak sejarah yang dihapus atau pihak yang dirugikan dalam proses ini.
"Jadi, jangan sampai fakta-fakta sejarah kemudian tidak dihargai dan dihormati," kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (3/7).
Kontroversi penulisan ulang sejarah mencuat setelah pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut tidak ada bukti pemerkosaan massal dalam tragedi Mei 1998. Hal ini memicu reaksi dari sejumlah anggota Komisi X DPR RI yang meminta penulisan ulang sejarah ditunda bahkan dihentikan.
Karena itu, Puan menekankan pentingnya pendekatan yang adil dan akuntabel. Ia mengingatkan, penulisan sejarah itu harus dilaksanakan sejelas-jelasnya, tanpa ada pihak yang merasa dirugikan atau dihilangkan jejak sejarahnya.
Puan juga menyampaikan sejarah baik yang pahit maupun manis, harus disampaikan sebagaimana adanya. Ia mengimbau pemerintah agar mengedepankan semangat Jas Merah, (Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah) yang diamanatkan oleh proklamator Presiden pertama RI Sukarno.
"Ya itu, apapun kalimatnya, apapun kejadiannya jangan sampai ada yang tersakiti, jangan sampai ada yang dihilangkan karena sejarah tetap sejarah. Jadi, harus dikaji dengan baik dan dilakukan dengan hati-hati," ujarnya.
Tim Penulisan Ulang Sejarah Nasional sendiri melibatkan 113 sejarawan dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan dikabarkan mundur karena menilai ada kejanggalan dalam prosesnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan Tim Supervisi akan berasal dari Komisi III dan Komisi X DPR RI, yang membidangi hukum serta pendidikan dan kebudayaan. Ia menyatakan tim ini akan bekerja secara profesional untuk memastikan proyek tidak menyimpang dari kaidah akademik dan historis.
"Setelah konsultasi dengan Ketua DPR dan sesama pimpinan DPR lainnya, maka DPR akan membentuk dan menugaskan tim supervisi penulisan ulang sejarah," ucap Dasco, Sabtu (5/7).
Dasco berharap, dengan keberadaan tim supervisi ini, polemik yang muncul di masyarakat dapat diredam. Ia menekankan pentingnya pengawasan agar penulisan ulang sejarah berjalan objektif dan tidak menimbulkan luka baru.
"Hal-hal yang menjadi kontroversi itu akan menjadi perhatian khusus oleh tim ini dalam melakukan supervisi terhadap penulisan ulang sejarah yang dilakukan tim Kementerian Kebudayaan," pungkasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
