JawaPos.com - Harga semen dan keramik yang terus melambung di Papua, terutama di wilayah pegunungan, telah menjadi kendala besar bagi pembangunan infrastruktur. Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, PT Honay Ajkwa Lorentz (HOL) bersama PT Tambang Mineral Papua (TMP) akan membangun pabrik semen dan keramik di Timika, Papua Tengah senilai Rp 3,1 triliun. Proyek ini menjadi langkah strategis untuk menekan harga bahan bangunan sekaligus meningkatkan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Menurut Direktur HAL, Fenty Widiyawati, pembangunan pabrik ini menggunakan limbah industri atau tailing dari PT Freeport Indonesia sebagai bahan baku utama. “Dengan memanfaatkan tailing yang kaya kandungan mineral, kami dapat menekan biaya produksi sehingga harga semen di Papua bisa lebih terjangkau,” ujarnya di Surabaya.
Selama ini, harga semen di daerah pegunungan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga di wilayah lain di Indonesia.
Pabrik yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 9 hektar ini akan memulai tahap pertama produksi dengan kapasitas 21 juta ton semen per tahun. Target ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan lokal sekaligus membuka peluang ekspor ke Papua Nugini dan wilayah timur Indonesia.
Selain fokus pada produksi, proyek ini juga memberikan perhatian pada pemberdayaan masyarakat Papua. Dalam proses rekrutmen tenaga kerja, perusahaan menargetkan 80% karyawannya berasal dari Orang Asli Papua (OAP). “Kami ingin memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat, baik melalui lapangan kerja maupun pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia,” tambah Fenty.
Pembangunan pabrik ini tidak hanya solusi penurunan harga bahan bangunan, tetapi juga membawa dampak positif pada ekonomi lokal. Dengan menyerap 500–900 tenaga kerja di tahun pertama, proyek ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Selain itu, proyek ini juga menjadi bukti upaya pengelolaan limbah industri secara berkelanjutan. Limbah tailing yang selama ini dianggap masalah lingkungan, kini diolah menjadi bahan baku bernilai ekonomis. “Dengan penggunaan tailing hingga 90% dalam produksi semen, kami tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan solusi ekonomi bagi Papua,” jelas Fenty.
Groundbreaking dan upacara adat Bakar Batu untuk memulai pembangunan pabrik dijadwalkan pada Februari 2025. Sementara itu, rekrutmen tenaga kerja telah dimulai sejak awal Januari 2025. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2026, dengan harapan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Papua.