Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Desember 2024 | 20.29 WIB

Penyebaran Paham Radikalisme di Medsos Masih Terjadi, Perlu Penguatan Moderasi Beragama di Dunia Digital

Kegiatan diskusi Penguatan Moderasi Beragama untuk Masyarakat yang diselenggarakan LTN PBNU di Jakarta, Selasa (10/12). Hilmi/Jawa Pos - Image

Kegiatan diskusi Penguatan Moderasi Beragama untuk Masyarakat yang diselenggarakan LTN PBNU di Jakarta, Selasa (10/12). Hilmi/Jawa Pos

JawaPos.com - Kampanye atau infiltrasi paham radikalisme di media sosial (medsos) ditengarai masih terus bermunculan. Untuk menangkisnya, tidak cukup lewat literasi digital. Tetapi juga lewat penguatan moderasi beragama yang jadi program utama pemerintah sekarang.

Ancaman kampanye atau infiltrasi paham radikalisme itu dikupas dalam diskusi Penguatan Moderasi Beragama untuk Masyarakat yang diselenggarakan Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PBNU di Jakarta pada Selasa (10/12). Dalam diskusi itu, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU KH Nurul Badruttamam mengatakan, moderasi beragama perlu terus digulirkan di masyarakat.

Karena di dalamnya banyak pilar yang bisa membendung paham radikalisme. Seperti pilar toleransi, juga ada pilar kedamaian serta keadilan. Menurutnya, pilar-pilar moderasi tersebut, perlu diimplementasikan secara nyata dalam segala aspek kehidupan. "Termasuk dalam bermedia sosial," katanya.

Kiai Nurul mengatakan, dalam pengembangan moderasi beragama perlu diiringi dengan penguatan literasi digital. Baginya, literasi digital itu penting. Khususnya untuk menebar pesan damai dan menjaga harmoni antarumat beragama berbasis teknologi.

Dia mengatakan saat ini ada tiga tantangan moderasi beragama di media sosial. Pertama adalah radikalisasi online. Yaitu penyebaran ideologi radikal melalui platform media sosial. Radikalisasi online ini harus dibasmi dengan melibatkan banyak pihak. Tidak cukup peran tokoh agama saja.

"Kedua adalah disinformasi keagamaan," katanya. Disinformasi keagamaan yakni maraknya berita palsu yang berpotensi memecah-belah umat. Lalu yang ketiga adalah, polarisasi konten media sosial. Polarisasi di ranah digital itu, apat memicu konflik antar kelompok umat beragama.

Ketua LTN PBNU Ishaq Zubaedi mengatakan, kehidupan beragama yang moderat menjadi pilar penting untuk pembangunan bangsa dan negara. "Moderasi beragama mejadi salah satu indikator penting, bahwa pembangunan di republik kita ini berjalan memenuhi unsur-unsur dari sejumlah kebutuhan bangsa Indonesia," jelas Staf Khusus Menteri Sosial itu.

Menurutnya moderasi beragama juga menjadi kunci penting terciptanya harmoni sosial yang dapat menjadi indikator pembangunan yang sudah tercapai. Moderasi beragama ini lebih ditekankan pada masalah-masalah kehidupan beragama yang moderat. "Jika harmoni sosial terbentuk maka salah satu prasyarat untuk melanjutkan pembangunan itu sudah tercapai," terangnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore