
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep berjalan usai memberikan klarifikasi terkait jet pribadi di Gedung ACLC Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (17/9/2024). (Fedrik Tarigan/ Jawa Pos)
JawaPos.com – Kendati Kaesang Pangarep telah datang ke KPK untuk menjelaskan penggunaan jet pribadi, sorotan dari beberapa kalangan belum reda. Karena itu, melalui juru bicaranya, Kaesang meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi tanpa dasar yang jelas.
”Semua data dan informasi sudah kami sampaikan ke KPK. Mohon jangan berspekulasi,” ujar jubir Kaesang yang juga kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Francine Widjojo, kemarin.
Dia juga meminta semua pihak tidak berspekulasi tentang orang-orang yang berada satu pesawat dengan Kaesang saat berkunjung ke Amerika Serikat pada Agustus lalu.
Francine menegaskan, selain Kaesang, ada orang lain di pesawat pribadi tersebut. Mereka berangkat bersama ke Amerika Serikat. ”Misalkan di pesawat itu ada delapan penumpang. Empat orang dari pemilik pesawat dan empat orang dari Mas Kaesang,” imbuhnya.
Francine kembali meminta agar siapa pun tidak berspekulasi tanpa konfirmasi ke KPK. ”Sekali lagi, mohon tidak berspekulasi tanpa konfirmasi dari KPK dan kami,” tegasnya.
Pada kesempatan berbeda, Presiden Joko Widodo turut berkomentar mengenai dugaan gratifikasi yang menimpa putra bungsunya itu. Namun, Jokowi tidak berkomentar panjang. Dia hanya menyatakan bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.
Sebelumnya, pengamat penerbangan Alvin Lie mempertanyakan statemen Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan yang menyebut biaya penerbangan ke AS sekitar Rp 90 juta per orang. ”Sama sekali tak logis,” terangnya kepada Jawa Pos kemarin.
Sebab, sewa jet pribadi dihitung per jam, bukan per orang dan tujuannya. Selain itu, biaya sewa biasanya dihitung berdasar pergi pulang. Tidak hanya satu arah.
Data kepemilikan pesawat, menurut Alvin, bisa diperoleh di Dirjen Perhubungan Udara. ”Mereka yang berhak beri izin pesawat mendarat di Indonesia dan kemudian berangkat lagi ke luar negeri,” paparnya.
Pada bagian lain, Ketua IM57+ M. Praswad Nugraha mengkritik sikap KPK yang menyebut gratifikasi harus diterima langsung oleh penyelenggara negara. Padahal, sering terjadi gratifikasi kepada penyelenggara negara diberikan melalui keluarga. (elo/far/lyn/c19/oni)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
