Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Juni 2024 | 05.09 WIB

Gerakan Gotong Royong di Palopo Sukses Turunkan Angka Stunting dalam Waktu Singkat

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dokter Hasto, di Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

JawaPos.com - Suasana guyub rukun yang luar biasa mewarnai kunjungan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dokter Hasto, di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Antusiasme para Penyuluh KB beserta jajaran pemerintah daerah menyambut secara langsung di Bandar Udara Lagaligo Bua.

Dokter Hasto hadir didampingi Direktur Bina Pelayanan KB Wilayah Khusus BKKBN, dr. Fajar Fidawati, MKM, serta jajaran BKKBN Pusat dan Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan. Rombongan beriringan bertolak menuju lokasi 'Kick off Intervensi Serentak Pencegahan Stunting' di Posyandu Nuri, Kelurahan Penggoli, Kecamatan Wara Utara, (11/06).

"Kota ini unik, tidak luas, penduduknya 190.000, dari ujung ke ujung setengah jam sudah tercapai. Namun, yang saya agak merinding ternyata jumlah perguruan tingginya lebih dari 15. Ini luar biasa dan ini kali pertama saya ke kota Palopo," ujarnya.

Dirinya juga memberikan apresiasi tinggi pada Kota Palopo yang berhasil menurunkan angka prevalensi stunting hingga 1,9 persen (menurut data EPPGBM). Angka tersebut mengalahkan kota-kota besar di pulau Jawa. 

"September 2023 kasus stuntingnya 228, setelah itu digerakkan dengan Bapak Asuh anak Stunting (BAAS). Ini luar biasa karena baru di Palopo ini semua anak stunting dibagi habis. TNI, POLRI, PNS, gotong-royong. Itu kekuatan yang besar," kata dokter Hasto.

Kota yang memiliki slogan 'Kota Idaman' tersebut, dalam waktu singkat dapat menurunkan angka stunting yang saat ini tinggal 78 kasus.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Walikota, Ketua TP PKK, Sekda, jajaran Forkompinda, para kader, posyandu, para Tim Penggerak Keluarga, bidan, Penyuluh KB, PKK, Babinsa, Babinkamtibmas.

"Semua ikut bergerak untuk membagi makanan untuk masyarakat risiko stunting," tukasnya.

Dokter Hasto menyebut tidak sulit untuk mencegah lahirnya stunting baru di Palopo. Dari jumlah 190.000 penduduk, menurut Pendataan Keluarga BKKBN, setiap tahun rata-rata ada sekitar 3.520 orang hamil.

"Setiap bulan kira-kira ada 250 lebih orang hamil, per harinya tidak sampai 10 kehamilan baru. Dari situ Tim Pendamping Keluarga (TPK) bersiap mengukur panjang badan bayi baru lahir. Kurang dari 48cm berarti risiko stunting (harus diintervensi)," papar dokter Hasto.

Ia juga menekankan pentingnya pre konsepsi terhadap para calon pengantin, "Periksa lingkar lengan, HB itu sangat murah sekali, 100 ribu semua sudah diperiksa," kata dokter Hasto. Bahkan menariknya, Palopo menggratiskan semua pemeriksaan pra nikah di puskesmas.

"Untuk laki-laki, persiapannya 75 hari sebelum menikah, mengurangi rokok, mengurangi alkohol, karena keduanya bersifat toxic (bagi kualitas sperma). Harapan kami untuk mencegah stunting baru, itu yang harus dilakukan," jelas dokter Hasto.

Sementara itu, Pj. Wali Kota Palopo, Asrul Sani menyebutkan jumlah Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Palopo sebanyak 6.178 keluarga, dan sudah dilakukan intervensi maupun pendampingan oleh TPK terhadap 4.348 keluarga.

"Di kota kami bahkan sudah ada 12 kelurahan yang zero stunting. Ini berkat kolaborasi, baik itu unsur Forkompinda, unsur pemda, perguruan tinggi, instansi swasta. Karena ini menyangkut masa depan bangsa kita," kata Asrul.

Editor: Dimas Ryandi
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore