Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 April 2023 | 17.37 WIB

Mbah Slamet Pernah Terjerat Kasus Uang Palsu

KORBAN DUKUN SADIS: Proses pemakaman jenazah kroban pembunuhan Mbah Slamet di Desa  Balun, Wanayasa, Banjarnegara. - Image

KORBAN DUKUN SADIS: Proses pemakaman jenazah kroban pembunuhan Mbah Slamet di Desa Balun, Wanayasa, Banjarnegara.

Posko Aduan Terima 14 Laporan Orang Hilang

JawaPos.com – Slamet Tohari alias Mbah Slamet, dukun pelaku pembunuhan berantai asal Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, ternyata punya catatan kriminal. Pada 2019, dia pernah ditangkap polisi karena terlibat kasus peredaran uang palsu.

Fakta baru itu diungkap Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto kemarin (6/4). Dia mengatakan, pada 2019 Mbah Slamet ditangkap di Pekalongan karena kasus uang palsu. ’’Sebelum tahun 2019 dia juga pernah ditangkap dengan kasus yang sama, yaitu peredaran uang palsu,’’ kata Hendri, seperti dilansir Radar Banyumas.

Jejak kriminal itu kembali muncul saat polisi menyita sejumlah barang bukti dalam kasus penggandaan uang. Di antaranya, uang palsu pecahan Rp 100.000 sebanyak seribu lembar. Sementara itu, posko aduan yang dibuka polisi mendapat respons dari masyarakat. Hingga kemarin, sudah ada 14 laporan yang masuk. Posko itu diharapkan bisa mengungkap identitas para korban pembunuhan Slamet Tohari.

Tanggapan Polda Lampung

Polisi mendampingi keluarga korban yang berasal dari Lampung.

Polda Lampung membenarkan bahwa ada dua lagi warga daerah setempat yang menjadi korban pembunuhan Mbah Slamet di Banjarnegara, Jawa Tengah. ’’Dua orang itu adalah pasangan suami istri asal Pesawaran,’’ kata Kepala Bidang Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad dalam keterangannya di Lampung Selatan, seperti dilansir Antara kemarin.

Dia melanjutkan, Kapolres Pesawaran AKBP Pratomo telah mendatangi keluarga korban di Kecamatan Negeri Katon untuk melakukan identifikasi. Kapolres Pesawaran juga berkoordinasi dengan Polres Banjarnegara. Tujuannya agar segera bisa memberangkatkan keluarga korban atas nama Irsyad, Wahyutriningsih, Suheri, dan Riani ke Banjarnegara untuk mencocokkan dengan data penyidik Satreskrim Polres Banjarnegara.

Total ada empat korban dari Lampung. Mereka merupakan dua pasangan suami istri asal Kabupaten Pesawaran. Pandra melanjutkan, Polda Lampung berencana mengambil sampel DNA dari keluarga korban. ’’Rencananya, Tim DVI Biddokkes Polda Lampung akan melakukan pengambilan sampel DNA dari keluarga korban. Kami juga berkoordinasi dengan Polres Pesawaran dan pemda setempat,’’ ungkapnya.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, kedua jenazah pasutri asal Lampung sudah diautopsi. Petugas menemukan KTP di lubang yang menjadi tempat dua jenazah itu dikubur pelaku. Dari hasil konfirmasi, keluarga korban ternyata ada di daerah Cikampek.

Kapolda menegaskan, sebelum dibunuh, tersangka memberikan minuman yang telah diberi obat klonidin. Obat ini mempunyai efek mengantuk. Saat korban mengantuk, tersangka menyebut ritual penggandaan uang gagal. (jud/c18/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore