
KORBAN DUKUN SADIS: Proses pemakaman jenazah kroban pembunuhan Mbah Slamet di Desa Balun, Wanayasa, Banjarnegara.
Posko Aduan Terima 14 Laporan Orang Hilang
JawaPos.com – Slamet Tohari alias Mbah Slamet, dukun pelaku pembunuhan berantai asal Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, ternyata punya catatan kriminal. Pada 2019, dia pernah ditangkap polisi karena terlibat kasus peredaran uang palsu.
Fakta baru itu diungkap Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto kemarin (6/4). Dia mengatakan, pada 2019 Mbah Slamet ditangkap di Pekalongan karena kasus uang palsu. ’’Sebelum tahun 2019 dia juga pernah ditangkap dengan kasus yang sama, yaitu peredaran uang palsu,’’ kata Hendri, seperti dilansir Radar Banyumas.
Jejak kriminal itu kembali muncul saat polisi menyita sejumlah barang bukti dalam kasus penggandaan uang. Di antaranya, uang palsu pecahan Rp 100.000 sebanyak seribu lembar. Sementara itu, posko aduan yang dibuka polisi mendapat respons dari masyarakat. Hingga kemarin, sudah ada 14 laporan yang masuk. Posko itu diharapkan bisa mengungkap identitas para korban pembunuhan Slamet Tohari.
Tanggapan Polda Lampung
Polisi mendampingi keluarga korban yang berasal dari Lampung.
Polda Lampung membenarkan bahwa ada dua lagi warga daerah setempat yang menjadi korban pembunuhan Mbah Slamet di Banjarnegara, Jawa Tengah. ’’Dua orang itu adalah pasangan suami istri asal Pesawaran,’’ kata Kepala Bidang Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad dalam keterangannya di Lampung Selatan, seperti dilansir Antara kemarin.
Dia melanjutkan, Kapolres Pesawaran AKBP Pratomo telah mendatangi keluarga korban di Kecamatan Negeri Katon untuk melakukan identifikasi. Kapolres Pesawaran juga berkoordinasi dengan Polres Banjarnegara. Tujuannya agar segera bisa memberangkatkan keluarga korban atas nama Irsyad, Wahyutriningsih, Suheri, dan Riani ke Banjarnegara untuk mencocokkan dengan data penyidik Satreskrim Polres Banjarnegara.
Total ada empat korban dari Lampung. Mereka merupakan dua pasangan suami istri asal Kabupaten Pesawaran. Pandra melanjutkan, Polda Lampung berencana mengambil sampel DNA dari keluarga korban. ’’Rencananya, Tim DVI Biddokkes Polda Lampung akan melakukan pengambilan sampel DNA dari keluarga korban. Kami juga berkoordinasi dengan Polres Pesawaran dan pemda setempat,’’ ungkapnya.
Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan, kedua jenazah pasutri asal Lampung sudah diautopsi. Petugas menemukan KTP di lubang yang menjadi tempat dua jenazah itu dikubur pelaku. Dari hasil konfirmasi, keluarga korban ternyata ada di daerah Cikampek.
Kapolda menegaskan, sebelum dibunuh, tersangka memberikan minuman yang telah diberi obat klonidin. Obat ini mempunyai efek mengantuk. Saat korban mengantuk, tersangka menyebut ritual penggandaan uang gagal. (jud/c18/oni)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
