
Kepala Badan Bahasa Kemendikbudristek Endang Aminudin Aziz di sela pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional, di Jakarta, kemarin (2/5).
JawaPos.com - UNESCO menyebut setiap dua minggu, ada satu bahasa daerah yang hilang di dunia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) mencoba mengerem laju kepunahan bahasa daerah di Indonesia dengan menggencarkan program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD).
Tahun ini, ditargetkan sebanyak 93 bahasa daerah akan direvitalisasi. Di antaranya, Bahasa Toraja, bahasa Banggai, Basa Ternate, Bagasa Moi, Bahasa Hatam, Bahasa Gayo, Bahasa Batak dialek Toba, Bahasa Melayu dialek Sorkam, Bahasa Kayuagung, Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Mbojo, Bahasa Kambera, Basa Uud Danum, dan lainnya.
Kepala Badan Bahasa Kemendikbudristek Endang Aminudin Aziz mengungkapkan, keberlangsungan bahasa daerah saat ini tergantung pada bahasa pergaulan yang digunakan setiap hari. Semakin jarang penutur menggunakan bahasa daerah, maka semakin besar pula risiko bahasa tersebut punah.
”Gejala utamanya adalah tidak lagi menggunakan bahasa itu dalam pergaulan sehari-hari. Oleh karena itu, menjadi penting bahasa ibu ini dimulai dari keluarga,” tutur Endang Aminudin Aziz di sela pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional, di Jakarta, kemarin (2/5).
Karena itu, Badan Bahasa berupaya melakukan advokasi dengan menyadarkan orang tua, masyarakat, pegiat bahasa, hingga pemerintah daerah (pemda) guna melestarikan bahasa daerahnya. Pelestarian ini pun dilakukan melalui berbagai cara. Di antaranya, Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional.
Diakui Aminudin, program ini awalnya tak digubris dan dipertanyakan esensinya oleh masyarakat dan pemda. Apalagi di tengah gempuran globalisasi yang kian menggerus berbagai hal. Namun, berjalan kurang lebih empat tahun, kini justru para pemda yang ingin bahasa daerahnya diikutkan dalam revitalisasi.
”Tahun ini 93 bahasa daerah, padahal masih banyak yang mau. Tapi kami batasi karena kemampuan kami juga terbatas,” ungkapnya. Sebagai informasi, pada tahun 2022 bahasa daerah yang berhasil direvitalisasi sebanyak 39 bahasa di 13 provinsi. Kemudian, di tahun 2023, jumlahnya naik menjadi 72 bahasa atau dialek yang direvitalisasi pada 25 provinsi.
Meski begitu, Aminudin menggarisbawahi, bahwa RBD tidak serta-merta menghilangkan tren punahnya bahasa daerah. Upaya ini hanya memperlambat kepunahannya sehingga masyarakat sadar dan tetap menggunakannya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
