
BERBAGI: Dewi Hanifah (kanan) menyalurkan bantuan makanan untuk warga terdampak topan Haiyan di Filipina pada 2013.
HARI Kartini yang kita peringati hari ini (21/4) kembali mengajak kita semua berefleksi. Sudah tercapaikah kesetaraan akses dan peluang bagi perempuan di ruang-ruang publik? Termasuk di daerah-daerah bencana yang menjadi domain para relawan perempuan seperti Wiwit Sri Arianti dan Dewi Hanifah.
DEWI Hanifah menjadi relawan bencana sejak 19 tahun lalu. Pada Juni 2005, sekitar enam bulan setelah tsunami Aceh, dia mendaftar ke yayasan Mercy Corps Indonesia. Ternyata tindakan iseng Dewi itulah yang kemudian menjadi arah hidupnya kini.
”Saya waktu itu baru pulang dari Cile sebagai sekretaris duta besar Indonesia di sana,” ujarnya kepada Jawa Pos Jumat (19/4).
Bersamaan dengan itu, seorang teman menawarinya untuk menjadi relawan di Aceh, membantu pemulihan masyarakat pascagempa dan tsunami. Tawaran itu pun dia ambil.
Tanpa pengalaman apa pun, Dewi bertolak ke Aceh. Saat pesawatnya mendarat, dia shock. Sejauh mata memandang, yang dia temukan adalah reruntuhan bangunan, tanah-tanah kosong, serta wajah pilu para korban yang kehilangan keluarga dan sanak saudara. Dengan perasaan yang campur aduk, Dewi pun memulai hari-hari beratnya sebagai relawan.
”Apalagi, saat itu Indonesia belum punya pengalaman penanganan bencana besar,” ungkap lulusan Ilmu Sosiologi Universitas Widya Mataram, Jogja, tersebut.
Bersama tim, perempuan kelahiran 3 Oktober itu berfokus pada upaya-upaya pemulihan dan penanganan bencana. Dewi menjadi relawan selama 16 bulan di Aceh. Tugas utamanya adalah menyalurkan bantuan dan membantu warga Aceh agar segera bangkit.
Aceh, rupanya, adalah pintu pertama Dewi untuk menjawab panggilan-panggilan berikutnya dari lokasi bencana. Ada gempa Jogja (2006), banjir Jakarta (2007), gempa Padang (2009), gempa Tasikmalaya (2009), gempa dan tsunami Mentawai (2010), topan Haiyan Filipina (2013), gempa Nepal (2015), serta likuefaksi Sulawesi Tengah (2018).
ANTRE: Distribusi bantuan makanan untuk korban topan Haiyan di Filipina ditertibkan dengan antrean.
”Ada begitu banyak hal yang saya dapatkan dari berbagai bencana itu,” papar Dewi. Salah satunya adalah strategi penanganan bencana yang tepat dengan melihat kebutuhan dan karakter masyarakat yang terdampak.
Membuat skala prioritas agar yang paling membutuhkan bantuan bisa lebih dulu ditolong adalah hal yang penting. Namun, itu perlu diselaraskan dengan karakter masyarakat agar distribusi bantuan lebih efektif. Khususnya pada fase emergency response atau masa-masa awal pascabencana.
Baca Juga: Pecahkan Rekor Muri, Kota Madiun Gelar Peragaan Busana Kebaya Kartini Terpanjang Nasional
”Karakter masyarakat pesisir dan pegunungan itu beda,” jelas Dewi. Ada yang susah diatur, ada yang nurut. Jika bertemu dengan yang susah diatur, distribusi bantuan harus dirancang secara detail. Kalau perlu, pakai nomor antrean supaya tidak terjadi chaos atau rebutan.
Makin sering berkecimpung di daerah bencana, karakter Dewi pun terbentuk menjadi lebih tangguh. Aktivitas fisik di lokasi bencana tidak hanya menguras energi, tetapi juga emosi. Namun, Dewi menikmatinya. ”Terlibat kerja-kerja seperti ini malah membuat nyawa serasa bertambah. Buktinya, saya jarang sakit,” ungkapnya, lalu tertawa.
Menjadi relawan bencana tidak berarti bebas dari ancaman bahaya. Salah satu yang ekstrem dialaminya saat bertugas di Nepal. Ketika itu dia menunaikan salat Subuh di kamar hotel di lantai 7. Tiba-tiba, gempa besar mengguncang. Lift mati. Dewi hanya bisa pasrah. ”Paling nggak kalau mati saat bekerja itu fine,” tegasnya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
