JawaPos.com - Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Paulus Totok Lusida memastikan, pihaknya mendukung sektor padat karya, termasuk industri Sigaret Kretek Tangan (SKT). Ia menekankan, keberpihakannya terhadap sektor ini akan diimplementasikan pada pengenaan cukai yang lebih rendah.
Totok menjelaskan, sektor padat karya harus diutamakan di Indonesia, terutama untuk mengatasi resesi serta kondisi perekonomian global yang tidak stabil.
"Sektor padat karya yang solid akan meningkatkan resiliensi negara dalam menghadapi kondisi tersebut, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan global," kata Totok kepada wartawan, Jumat (1/3).
Lebih lanjut, Totok juga memastikan Prabowo-Gibran akan mendorong pemerintahan ke depan agar senantiasa menciptakan lini usaha yang beriorientasi pada padat karya.
“Memang ini lah perlunya peranan dan ketegasan bahwa di dalam pemerintahan yang baru nanti, program untuk padat karya ini harus top down, clear, and clean. Harus dan wajib dilaksanakan,” ucap Totok.
Sementara itu, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), I Ketut Budhyman mengatakan, ekosistem pertembakauan harus dijaga atau penting untuk diperhatikan dari sisi penyediaan lapangan kerja dan serapan tenaga kerja lokal.
"Paslon manapun yang nantinya memimpin negeri ini, harapan kami untuk ekosistem pertembakauan, (khususnya) SKT yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah Indonesia, tetap harus dilestarikan dan dipastikan keberlangsungan masa depannya," ujar Ketut.
Ia mengutarakan, industri hasil tembakau merupakan kontributor penting dalam penerimaan cukai setiap tahunnya, di mana kontribusi dari cukai rokok mencapai Rp 213,48 triliun pada tahun 2023 atau sekitar 10 persen dari total penerimaan pajak. Belum lagi apabila ditambah dari kontribusi jenis pajak lainnya, seperti pajak rokok dan PPN.
Lebih jauh, Ketut menyebut keseluruhan ekosistem pertembakauan menjadi penghidupan bagi sekitar 6 juta tenaga kerja dari hulu ke hilir. Khusunya untuk segmen SKT, segmen tersebut merupakan sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja lokal di sentra-sentra produksi SKT sehingga perlu diberikan perlindungan oleh pemerintah.
“Bagi kami, di hulu hingga hilir dari ekosistem pertembakauan dibutuhkan perlindungan dan pemberdayaan melalui regulasi yang adil, berimbang, dan transparan agar segmen atau sektor industri ini dapat bertumbuh dan berdaya saing,” pungkasnya.