Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Januari 2022 | 20.50 WIB

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang hingga 31 Januari

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. maritim.go.id/Antara - Image

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. maritim.go.id/Antara

JawaPos.com–Pemerintah memperpanjang penerapan PPKM di Jawa dan Bali hingga 31 Januari. Pemerintah menilai peningkatan kasus yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir masih terkendali.

”Meski kasus meningkat, pemerintah tetap dalam kendali penuh menghadapi varian Omicron ini. Peningkatan kasus relatif terkendali,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan seperti dilansir dari Antara usai rapat terbatas evaluasi PPKM di Jakarta, Senin (24/1).

Menurut dia, jumlah kasus konfirmasi dan aktif harian masih lebih rendah lebih dari 90 persen jika dibandingkan dengan kasus puncak Delta.

”Namun sekali lagi, kita tidak perlu jumawa terhadap ini tetapi kita tetap harus disiplin. Kata kunci kita adalah disiplin,” tegas Luhut.

Luhut menjelaskan, kasus harian dalam seminggu terakhir terus mengalami peningkatan. Berdasar data yang pemerintah himpun, kasus di Jawa-Bali mendominasi kasus harian yang naik.

Kenaikan di Jawa Bali teridentifikasi masih bersumber dari peningkatan di wilayah aglomerasi Jabodetabek. Sementara itu, dari sisi level PPKM, terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang masuk ke level 1.

Teater perang pandemi yang terjadi di DKI Jakarta menyebabkan asesmen situasi provinsi tersebut masuk ke dalam level 3. Namun dalam melakukan asesmen level PPKM, pemerintah secara konsisten memperlakukan DKI sebagai satu kesatuan wilayah aglomerasi Jabodetabek. Secara aglomerasi, Jabodetabek saat ini masih pada level 2,” papar Luhut.

Selain itu, kasus yang disebabkan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) sudah berada di bawah 10 persen dari total kasus nasional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa transmisi lokal di Indonesia sudah lebih mendominasi dibanding waktu sebelumnya.

Pemerintah juga terus mewaspadai tren positivity rate. Meski secara keseluruhan, PCR dan antigen, positivity rate masih di bawah standar WHO yaitu 5 persen, tetapi positivity rate PCR sudah meningkat menjadi 9 persen.

”Dengan berbagai perkembangan tersebut, kami mengimbau masyarakat juga untuk lebih waspada. Protokol kesehatan jangan ditinggalkan, selalu kenakan masker, kurangi aktivitas keluar rumah yang tidak perlu, dan selalu gunakan PeduliLindungi ketika beraktivitas di tempat umum,” tutur Luhut.

Lebih lanjut, Luhut mengungkapkan, sejak Omicron ditemukan sebulan lalu di Indonesia, hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda kenaikan kasus yang cukup eksponensial seperti yang terjadi di belahan negara yang lain.

Posisi Bed Occupanty Ratio/BOR di Jawa-Bali, lanjut Luhut, juga jauh lebih baik dibandingkan dengan awal kenaikan varian Delta. Sehingga, memberikan ruang yang lebar sebelum mencapai batas mengkhawatirkan 60 persen.

Demikian pula kasus kematian harian di seluruh wilayah Jawa-Bali selama 14 hari terakhir juga masih pada tingkat yang cukup rendah.

”Namun sekali lagi Pemerintah tetap waspada terutama melihat angka reproduksi efektif mulai mengalami peningkatan. Saat ini angka RT di Jawa sudah mencapai 1 dan Bali sudah lebih dari 1,” ucap Luhut.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore