Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Desember 2023 | 05.04 WIB

Santriwati Korban Kiai Bawean Ungkap Modus Pencabulan, Paksa Pijat Kemaluan hingga Coba Menciumnya

Tersangka NS ditahan di Mapolres Gresik.

JawaPos.com - Kasus pencabulan yang dilakukan seorang kiai asal Bawean, NS, menyisakan cerita pilu di masyarakat. Seperti dialami oleh salah seorang santri yang pernah mondok di Ponpes Tahfidz Hidayatul Qur'an Dusun Kalimalang, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean. 

Mantan santri yang bernama Bunga (nama samaran) merupakan salah satu santriwati korban pencabulan yang akhirnya memilih berhenti mondok. Bunga memilih keluar lantaran pelajar kelas XI  SMA/MA itu tidak kuat mendapat perlakuan tak senonoh oleh Kiai NS.

Bunga menceritakan, sejak awal menjadi santri di ponpes tersebut sudah sering mendengar cerita-cerita tak wajar dari teman-temannya, tentang sepak terjang sang kiai pengasuhnya. 

Namun dirinya tak percaya begitu saja. Tiga bulan pertama di ponpes, dia tidak pernah diperlakukan tak wajar oleh pengasuh yang berinisial NS.

Baru setelah tiga bulan lebih menjadi santri di ponpes tersebut, dirinya mulai mendapat perlakuan tak senonoh dari pengasuhnya itu.

Saat itu Bunga mendapat giliran dipanggil pertama kalinya oleh NS untuk memijat. Kejadian itu terjadi di kamar atas rumah NS.

Alangkah terkejutnya Bunga, tatkala sang Kiai memerintah memijat kemaluannya dan mencoba meraba dan mencium si santri. "Setelah tiga bulan mondok di sana baru saya mendapat giliran pertama kali untuk memijat kiai, saya disuruh memegang kemaluannya, tapi tidak mau. Tangan saya dipegang kuat sekali," ucap Bunga dengan mata menangis, seperti dikutip dari Radar Gresik (Jawa Pos Grup), Selasa (26/12).

Dengan sekuat tenaga, Bungap meronta dan bisa melepaskan pegangan kiainya. Beruntung saat itu kunci tergantung di pintu, Bunga langsung kabur keluar kamar. 

Sejak saat itu, Bunga trauma dan selalu dihantui rasa takut akan dipanggil untuk dicabuli dengan modus diminta memijat kiainya lagi. Tak berhenti disitu, kejadian berulang dialami Bunga.

Alasan yang sama lagi-lagi untuk memijat Kiai NS. Bunga selalu meronta, menolak dan hanya bisa menangis. "Semua teman-teman di pondok tidak ada yang tenang dan takut dipanggil Kiai NS. Kecuali kalau dipanggil Kiai Layar, teman-teman di pondok baru bisa tenang," jelas Bunga.

Pada akhirnya, Bunga tidak kuat lagi oleh perlakuan tak senonoh sang Kiai. Bahkan Bunga ditampar dan dipukul hingga lebam karena menolak perintah kiainya. Bunga nekat meminta ibunya supaya segera menjemputnya dari pondok pesantren.

"Saya selalu menolak dan menangis. Kata kiai kalau menolak perintah kiai tidak akan selamat dunia akhirat dan semoga menjadi pelacur dimana-mana," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore