Tersangka NS ditahan di Mapolres Gresik.
JawaPos.com - Kasus pencabulan yang dilakukan seorang kiai asal Bawean, NS, menyisakan cerita pilu di masyarakat. Seperti dialami oleh salah seorang santri yang pernah mondok di Ponpes Tahfidz Hidayatul Qur'an Dusun Kalimalang, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean.
Mantan santri yang bernama Bunga (nama samaran) merupakan salah satu santriwati korban pencabulan yang akhirnya memilih berhenti mondok. Bunga memilih keluar lantaran pelajar kelas XI SMA/MA itu tidak kuat mendapat perlakuan tak senonoh oleh Kiai NS.
Bunga menceritakan, sejak awal menjadi santri di ponpes tersebut sudah sering mendengar cerita-cerita tak wajar dari teman-temannya, tentang sepak terjang sang kiai pengasuhnya.
Namun dirinya tak percaya begitu saja. Tiga bulan pertama di ponpes, dia tidak pernah diperlakukan tak wajar oleh pengasuh yang berinisial NS.
Baru setelah tiga bulan lebih menjadi santri di ponpes tersebut, dirinya mulai mendapat perlakuan tak senonoh dari pengasuhnya itu.
Saat itu Bunga mendapat giliran dipanggil pertama kalinya oleh NS untuk memijat. Kejadian itu terjadi di kamar atas rumah NS.
Alangkah terkejutnya Bunga, tatkala sang Kiai memerintah memijat kemaluannya dan mencoba meraba dan mencium si santri. "Setelah tiga bulan mondok di sana baru saya mendapat giliran pertama kali untuk memijat kiai, saya disuruh memegang kemaluannya, tapi tidak mau. Tangan saya dipegang kuat sekali," ucap Bunga dengan mata menangis, seperti dikutip dari Radar Gresik (Jawa Pos Grup), Selasa (26/12).
Dengan sekuat tenaga, Bungap meronta dan bisa melepaskan pegangan kiainya. Beruntung saat itu kunci tergantung di pintu, Bunga langsung kabur keluar kamar.
Sejak saat itu, Bunga trauma dan selalu dihantui rasa takut akan dipanggil untuk dicabuli dengan modus diminta memijat kiainya lagi. Tak berhenti disitu, kejadian berulang dialami Bunga.
Alasan yang sama lagi-lagi untuk memijat Kiai NS. Bunga selalu meronta, menolak dan hanya bisa menangis. "Semua teman-teman di pondok tidak ada yang tenang dan takut dipanggil Kiai NS. Kecuali kalau dipanggil Kiai Layar, teman-teman di pondok baru bisa tenang," jelas Bunga.
Pada akhirnya, Bunga tidak kuat lagi oleh perlakuan tak senonoh sang Kiai. Bahkan Bunga ditampar dan dipukul hingga lebam karena menolak perintah kiainya. Bunga nekat meminta ibunya supaya segera menjemputnya dari pondok pesantren.
"Saya selalu menolak dan menangis. Kata kiai kalau menolak perintah kiai tidak akan selamat dunia akhirat dan semoga menjadi pelacur dimana-mana," pungkasnya.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
