JawaPos.com - Jelang puncak acara Peringatan Hari Ibu ke-95, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Bintang Puspayoga mengunjungi 6 perempuan pejuang. Momen ini juga turut digunakan untuk mengingatkan kembali makna dari Hari Ibu di Indonesia.
Anjangsana dilakukan Bintang kemarin (17/12) mulai pukul 08.00 WITA. Ia mengunjungi kediaman Ni Nyoman Teplo (98) di kawasan Denpasar, Bali. Dalam pertemuan itu, keduanya sempat berbincang ringan sambil diselingi guyonan. “Umurnya 98? Tapi masih cantik,” ujar Bintang yang disambut tawa malu-malu Ni Nyoman Templo.
Usai dari sana, anjangsana berlanjut ke kediaman Ni Nyoman Sembero (86), Ni Ketut Runtji (93), Ni Luh Gede (95), Rossalyna Revida Nasution (76), dan ke rumah sakit menjenguk Ni Made Nganjungan (94). Keenam pejuang ini diketahui pernah bertugas di bagian logistik hingga membantu penyaluran perlengkapan senjata untuk pejuang Indonesia di garis terdepan.
Untuk diketahui, anjangsana ini merupakan kerjasama Kementerian PPPA dengan Perhimpunan Perempuan Tionghoa Indonesia (PINTI) dan organisasi Wirawati Catur Panca yang selama ini bertanggungjawab membina kekeluargaan para veteran perempuan dan meningkatkan status sosial wanita pejuang.
“Anjangsana ini rutin kami lakukan setiap tahun pada peringatan Hari Ibu. Selain memberikan tali kasih, yang terpenting adalah berterimakasih atas kontribusi para pejuang perempuan hebat ini sehingga kita semua bisa merdeka,” ujarnya ditemui disela kunjungannya, kemarin.
Salain itu, kata dia, satu hal utama yang patut dicontoh dari para perempuan pejuang ini adalah memperjuangkan kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Butuh keberanian besar dan kegigihan yang tinggi. “Semangat pantang menyerah ini yang harus dilanjutkan setiap perempuan di Indonesia, menjadi motivasi untuk bisa menjadi perempuan berdaya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, ia turut menekankan kembali bahwa Hari Ibu itu bukan sekadar Mother’s Day. Makna Hari Ibu yang diperingati di Indonesia lebih dari itu. Momen ini adalah penghargaan untuk perjuangan pergerakan perempuan yang hulunya adalah Kongres Perempuan Pertama di Indonesia yang berlangsung 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Dia melanjutkan, tidak ada yang salah dengan mengucapkan Selamat Hari Ibu untuk setiap ibu di Indonesia pada 22 Desember. Namun diharapkan, masyarakat juga memiliki pemahaman lebih bahwa Hari Ibu adalah pengakuan dari eksistensi perjuangan para perempuan pejuang di masa kemerdekaan.
“Dan mudah-mudahan, semangat Kongres 1928 menjadi motivasi bagi perempuan di seantero Indonesia. Menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penikmat pembangunan, tapi juga berperan dalam pembangunan itu sendiri,” pungkasnya.