
PERBAIKAN PERINGKAT: Presiden Joko Widodo didampingi Ketua KPK Firli Bahuri setelah menghadiri peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, kemarin (9/12). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
JawaPos.com - Jebloknya nilai indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tahun 2020 menjadi sorotan Presiden Joko Widodo dalam Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) kemarin (9/12). Jokowi, sapaan Joko Widodo, meminta seluruh pihak terkait bekerja keras memperbaiki nilai IPK tersebut. Tidak terkecuali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
”Kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, ranking indeks persepsi korupsi (IPK, Red) kita di tahun 2020 perlu kita perbaiki lagi,” kata Jokowi dalam peringatan Hakordia 2021 di KPK.
Tahun lalu IPK Indonesia menempati urutan ke-102 dari 180 negara yang disurvei Transparency International. Jokowi juga menyoroti upaya pemberantasan korupsi yang dinilai belum baik oleh masyarakat berdasar hasil sebuah survei nasional November lalu. Dalam survei itu, kata Jokowi, masyarakat menempatkan pemberantasan korupsi sebagai permasalahan kedua yang harus diselesaikan. Sementara itu, permasalahan pertama berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja.
Mantan gubernur DKI Jakarta itu meminta upaya pemberantasan korupsi disempurnakan sehingga bisa memberikan manfaat lebih banyak bagi masyarakat. Dia juga menegaskan kepada semua pihak agar penindakan korupsi tidak sekadar memberikan efek jera. Tapi juga memaksimalkan pemulihan kerugian negara.
”Pemberantasan korupsi sebagai extraordinary crime butuh cara-cara dan metode yang harus terus kita sempurnakan,” ungkapnya.
Dia pun menekankan pemberantasan korupsi tidak boleh identik dengan penangkapan. Menurut Jokowi, pemberantasan korupsi harus mengobati akar masalah. ”Yakni, melalui upaya pencegahan yang lebih fundamental,” imbuh dia.
Di kesempatan yang sama, Ketua KPK Firli Bahuri berpesan kepada semua pihak agar tidak kalah dengan korupsi. Dia mengajak semua elemen untuk mengambil peran melakukan aksi pemberantasan korupsi. Menurut dia, bangsa Indonesia memiliki posisi penting dalam kampanye antikorupsi dunia. ”Negara kita memiliki modal sosial sebagai bangsa yang besar,” tuturnya.
Photo
PINDAH INSTITUSI: Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo (kiri) menyalami Novel Baswedan (dua dari kanan) dan mantan pegawai KPK lainnya seusai pelantikan sebagai ASN Polri di Mabes Polri, Jakarta, kemarin (9/12). (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)
Di tempat terpisah, 44 eks pegawai KPK yang memilih bergabung menjadi ASN Polri resmi dilantik di Gedung Rupatama Mabes Polri kemarin. Rencananya, para ”korban” tes wawasan kebangsaan (TWK) itu mengikuti pelatihan orientasi selama sekitar dua minggu. ”Kami akan mengikuti semua prosedur yang dilakukan Mabes Polri,” kata Yudi Purnomo Harahap, salah seorang eks pegawai KPK yang dilantik.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
