
Seorang pengungsi anak Rohingya sedang duduk di dalam bus. (unhcr.org/id/)
JawaPos.com – Gelombang kedatangan pengungsi Rohingnya terus berlangsung. Gelombang yang terakhir tiba di wilayah Pesisir Blang Raya, Kabupaten Pidie dan Pantai Blang Ulam, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (10/12).
Panglima Laot Aceh Miftah Tjut Adek, mengatakan, mereka tiba di Pidie sekitar pukul 3.30 WIB dan 5.30 di Aceh Besar. Kedatangan tersebut sempat mendapatkan penolakan masyarakat setempat.
Kapolsek Muara Tiga Kabupaten Pidie Ipda Efendi mencatat jumlah keseluruhan para etnis Rohingya yang mendarat sekitar 180 orang.
“Jumlah perempuan lebih dominan yaitu sebanyak 74 orang, sementara laki-laki 53 orang, anak laki-laki 26 orang dan 27 orang anak perempuan," kata Efendi.
Sedangkan di Aceh Besar, Kapolsek Krueng Raya Rolly Yuiza Away menyebutkan imigran Rohingya yang mendarat sekitar 135 orang, dan belum dapat rincian dari jumlah pengungsi tersebut.
Kedatangan ratusan pengungsi Rohingnya ini diduga terdapat tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Polisi telah menetapkan seorang tersangka yang berperan dalam kedatangan para pengungsi tersebut ke Indonesia.
Kapolres Pidie, AKBP Imam Asfali SIK, mengungkapkan bahwa seorang warga negara Bangladesh bernama Husson Mukhtar (70) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
Husson Mukhtar adalah kapten kapal yang membawa 147 warga Rohingya yang ditemukan mendarat di pesisir pantai Muara Tiga pada Selasa (14/11).
Saat ini, Husson Mukhtar ditahan di Mapolres Pidie, sementara tiga orang lainnya masih menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO), yaitu Nababai, Saber, dan Zahrangi.
Kedatangan ratusan pengungsi Rohingya di Kabupaten Pidie ini ternyata bukan kejadian kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang sengaja disusun.
Para pengungsi Rohingya ini diberangkatkan dari kamp pengungsian di Bangladesh menuju Indonesia dengan menggunakan kapal yang mengangkut ratusan orang.
Setelah sampai di perairan Aceh, mereka dengan sengaja ‘terdampar’ sebagai upaya untuk masuk ke Indonesia.
Untuk melakukan perjalanan ini anak-anak dikenai biaya sebesar 50 ribu Taka atau sekitar Rp 7 juta, sementara dewasa harus membayar 100 ribu Taka atau sekitar Rp 14 juta.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
