Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2023 | 11.15 WIB

Petani pada Zaman Kerajaan Majapahit Gunakan Cara Unik untuk Usir Hama, Mulai Pakai Terasi hingga Memedi

Kegiatan bertani dan panen padi oleh masyarakat Kerajaan Majapahit tergambar pada relief Candi Borobudur. - Image

Kegiatan bertani dan panen padi oleh masyarakat Kerajaan Majapahit tergambar pada relief Candi Borobudur.

JawaPos.com - Nusantara pernah memiliki kerajaan yang terkenal akan kedigdayaannya dalam menguasai banyak wilayah hingga internasional. Kerajaan tersebut bernama Majapahit. Kerajaan yang berdiri pada 1923 M ini beribu kota di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Sebagai kerajaan besar dengan rakyatnya yang makmur, masyarakat Majapahit tentu memiliki ilmu pengetahuan dalam hal pertanian. Salah satu pengetahuan tersebut adalah pengusiran hama. Sebuah lahan pertanian tentu tidak akan menghasilkan panen yang maksimal jika tidak memiliki strategi dalam mengusir hama.

Masyarakat Kerajaan Majapahit tentu memiliki cara unik dan kreatif dalam mengusir hama di lahan pertaniannya. Dilansir dari Radar Majapahit (Jawa Pos Group), petani pada masa tersebut sering menggunakan bahan-bahan alami dari alam.

Hal ini diungkapkan oleh anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim, Edi Triharyantoro. Ia mengatakan, setidaknya terdapat tiga jenis perangkap. Yakni yang memanfaatkan serat tali, hewan ketam atau sejenis kelomang, dan terasi atau belacan.

Bahan-bahan tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah perangkap yang kuat. "Petani di zaman Majapahit melakukan upaya pemberantasan dengan membuat perangkap,” ujar Edy.

Salah satu hewan yang sangat merusak tanaman adalah walang sangit. Menurut Edy, perangkap pertama dibuat dengan merendam serat tali di bekas air rendaman belalang kapa. Tali tersebut kemudian dibentangkan di tengah sawah dan akan mengundang walang sangit berkerumun.

Usai belalang berkerumun, petani kemudian membasminya. Sementara itu, fungsi terasi dan ketam juga untuk menarik walang sangit sehingga mudah untuk dibunuh.

Selain menggunakan bahan alami, para petani Majapahit juga menggunakan sebuah alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat hama burung tertangkap. Masyarakat biasanya menggunakan plencung atau bambu yang diisi dengan lumpur atau tanah di ujungnya. Alat difungsikan dengan cara diayunkan ke arah sasaran sehingga isiannya terlempar.

Alat penghalau burung lainnya seperti memedi atau orang-orangan sawah serta kitiran atau baling-baling juga digunakan. Suara dari alat tersebut berguna mengusir para burung pemakan biji padi seperti emprit dan gelatik.

Edy juga menambahkan berbagai kearifan bertani zaman kuno tersebut sebenarnya masih banyak diterapkan petani saat ini. "Semua teknologi pertanian itu berjalan selaras dengan pengetahuan tentang mangsa tanam sehingga panen petani berhasil," pungkas Edy.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore