
Puluhan siswa belajar diteras gedung sekolah di SDN Kumitir 2 Kecamatan Jatirejo, Mojokerto , Jawa Timur, Jumat (08/11/2019), belajar di ruang darurat tersebut terpaksa dilakukan karena gedung sekolah mereka rusak, ahmad syaifudin salah satu wali murid me
JawaPos.com - Kepala Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo mengatakan, melalui Asesmen Nasional (AN) perkembangan sistem pendidikan di setiap sekolah dan madrasah di Indonesia dapat terlihat dari waktu ke waktu. Termasuk kesenjangan antarsekolah, antarkelompok, antarsiswa, dan antardaerah.
“Kita akan melihat kesenjangan itu ada di mana saja supaya pemerintah bisa melakukan intervensi yang asimetris sesuai dengan kebutuhan. Kalau butuhnya pelatihan matematika, maka itu yang diberikan. Kemudian, kalau kebutuhannya sarana prasarana, itu juga yang diberikan. Jadi, nanti lebih tepat guna,” imbuh dia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/5).
AN tidak hanya memotret hasilnya, tetapi juga memotret proses sebelumnya karena tujuannya adalah menghasilkan informasi yang bisa dipakai kembali oleh sekolah dan pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan pembelajaran, karena proses pembelajaran itu bukan tentang menuntaskan kurikulum. Sekolah itu untuk mengembangkan kompetensi, bukan menuntaskan kurikulum dan secepat mungkin mengejar materi.
“Ketika misalnya pengajaran literasinya ternyata kurang, apakah karena gurunya tidak menggunakan buku-buku yang ada di sekolah dengan baik atau memang tidak ada bukunya, ini kan dua hal yang berbeda. Hal-hal sederhana seperti itu bisa kita tangkap dari AN dan kita kembalikan lagi kepada sekolah,” tutur dia.
Ia pun menekankan, dalam pembelajaran itu tujuan utamanya adalah pengembangan kompetensi literasi dan numerasi dan tidak lagi menuntaskan konten kurikulum serta mengejar materi. Fokusnya pada apakah peserta didik menjadi lebih senang membaca dari sebelumnya ataupun apakah mereka lebih logis menerapkan konsep matematika dasar ke masalah baru dibandingkan ketika awal tahun.
“Ini bukan hanya soal Bahasa Indonesia dan Matematika saja karena urusan membaca, urusan pemecahan masalah (problem solving) matematika itu harus dikembangkan melalui seluruh mata pelajaran. Kalau tugas membuat anak-anak kita gemar dan terampil membaca, itu hanya di guru bahasa Indonesia saja, itu akan kewalahan gurunya,” tegas dia.
Baca Juga: Ada Pelecehan, Hotman Laporkan Tim Asesmen TWK KPK ke Komnas Perempuan
Semua guru mata pelajaran itu punya tugas untuk mengembangkan kecintaan dan keterampilan membaca, demikian juga dengan nalar pemecahan masalah. Cara berpikir sistematis ketika berhadapan dengan masalah harus dikembangkan pada semua mata pelajaran.
Menurutnya, UN sendiri pada tahun-tahun terakhir sudah diarahkan juga pada proses penalaran, tetapi sekarang lebih dikuatkan dan diakselerasi sehingga AN bukan hal yang sepenuhnya baru. Saat ini, persiapan AN pun sudah cukup ekstensif karena persiapannya memang butuh waktu panjang.
"Dari membuat kerangka dan kisi-kisi yang harus diukur dan didefinisikan dengan tepat," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
