Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Maret 2021 | 00.02 WIB

Menristek Tidak Mau Tiru Inovasi Teknologi Korea dan Jepang

Bambang Brodjonegoro. - Image

Bambang Brodjonegoro.

JawaPos.com - Korea Selatan dan Jepang saat ini dikenal sebagai salah satu negara dengan inovasi teknologi tercanggih di dunia. Berbeda dengan Indonesia yang saat ini masih terus mengembangkan inovasinya. Namun, apakah Indonesia harus meniru inovasi teknologi Korea Selatan dan Jepang?

Kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro, Indonesia tidak perlu untuk melakukan hal tersebut. Sebab, keadaan yang dialami dua negara itu dengan Indonesia berbeda.

"Kalau kita hanya mengikuti Korea dan Jepang kemungkinan case berbeda, Korea dan Jepang itu negara tidak punya sumber daya alam sumber daya alam yang sangat terbatas, sehingga mereka memang habis-habisan melakukan inovasi di bidang teknologi," jelasnya dalam webinar Improving The Knowledge and Innovation Ecosystem for a Better Indonesia, Selasa (16/3).

Sementara itu, Indonesia akan kaya sumber daya alamnya dengan beragam keanekaragaman hayati yang paling besar di dunia. Jadi, tidak mungkin Indonesia dapat meniru Korea Selatan dan Jepang.

"Berarti inovasi kita barangkali tidak bisa meniru persis seperti yang dilakukan oleh Korea dan Jepang, sebaliknya kita harus membuat suatu arus baru, yaitu inovasi yang berbasiskan sumber daya alam dan di sisi lain inovasi yang mendorong kemampuan di dalam teknologi digital," tambahnya.

Namun, Korea Selatan dan Jepang tetap dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan teknologi. Untuk inovasi, Indonesia lebih cocok untuk meniru dari Amerika Latin, yakni Chile.

"Tidak ada salahnya kita melihat negara seperti Chile, mereka adalah negara Amerika Latin yang sudah lolos dari middle income trap, lebih dulu dari Brasil dan Argentina. Berbasis sumber daya alam yang mereka miliki, khususnya di bidang pertambangan, yang di mana industri metal di Turki industri baja berkembang pesat setelah mereka melakukan upaya nilai tambah dari hasil tambang tersebut," imbuhnya.

Tentunya untuk mendorong inovasi, perlu penguatan kerjasama antara ilmuwan dengan entrepreneur. Ini merupakan hal penting, yakni bagaimana membawa hasil inovasi ke pasar, mempunyai daya saing dan akhirnya bisa diterima oleh pasar.

"Di situlah peran yang namanya start up atau pengusaha pemula berbasis teknologi sebagai enterpreneur yang membawa teknologi tersebut dan inilah yang harus benar-benar kita groom di Indonesia, bonus demografi yang kita miliki harus diarahkan agar dalam waktu yang tidak lama lagi, Indonesia punya new generation of entrepreneur," pungkasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore