Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 September 2023 | 00.20 WIB

Singgung Marhaenisme, Megawati: Kalau Menyebut Langsung Dikatakan Komunisme

 
 

Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo saat di sambut Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri, bersama bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo, Ketua Harian Perindo, Tuan Guru Bajang

 
JawaPos.com - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa prinsip pemikiran marhaenisme tidak terikat pada kerangka pemikiran komunisme. Menurutnya, banyak yang salah mengartikan pemikiran marhaenisme dengan komunisme, karena tidak tahu sejarah.
 
"Dulu banyak orang selalu mengkorelasikan, kalau menyebut marhaenisme langsung dikatakan kita ini komunisme. Padahal berarti orang itu tidak tahu sejarah dan tidak tahu apa sebenarnya marhaen," kata Megawati dalam pidatonya di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDIP di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jum'at (29/9).
 
Presiden RI ke-5 ini menegaskan, marhaenisme merupakan kerangka falsafah yang digaungkan Presiden lSoekarno, pada saat menemui seorang petani bernama Marhaen di Bandung. Falsafah itu muncul melalui pertanyaan Soekarno pada Marhaen.
 
 
Dalam dialog itu, Megawati mengungkapkan bahwa Soekarno melempar pertanyaan terkait kegiatan pertanian perorangan kepada Marhaen. Kepemilikan sawah hingga harga jual menjadi dialog Soekarno dengan Marhaen.
 
"Ketika beliau (Soekarno) bertemu, 'siapa nama bapak? Marhaen, Pak'. Tentu bahasa Sunda. 'Apakah sawah ini punya bapak? Iya'," ujar Megawati.
 
"Apakah padi ini punya bapak? Iya. Apakah benih ini punya bapak? Iya. Apakah cangkulnya punya bapak? Iya. Apakah ketika panen nanti bapak akan berjual sesuai kebutuhan bapak? Iya. Apakah bapak bisa menghidupi keluarga bapak dengan beras yang telah disediakan? Iya. Lalu beliau (Soekarno) bertanya, apakah dengan kecukupan bapak itu cukup? Iya, tetapi saya tidak bisa memberikan tambahan bagi orang lain," sambungnya.
 
Megawati pun menegaskan, melalui pertanyaan itu falsafah marhaenisme muncul. Ia pun menegaskan, kisah dibalik pemikiran marhaenisme bukan omong kosong belaka lantaran makam marhaen bisa di temukan di daerah Bandung.
 
Ini sebetulnya filosofi dari pada marhaenisme, dan ini yang saya ingin kenalkan bapak presiden, bapak wakil presiden, dan kalau mau tahu supaya jangan ada prasangka, makamnya itu ada. Silakan cari di kampung cipagalo bandung. Jadi itu bukannya omong kosong," pungkasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore