Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 September 2023 | 22.20 WIB

Mengunjungi Bayi El yang Akhirnya Kembali ke Pangkuan Ibu Biologisnya

DARAH DAGING: Siti Mauliah bercanda dengan Bayi El yang digendong Tabrani saat disambangi Jawa Pos di rumahnya pada Kamis (14/9). - Image

DARAH DAGING: Siti Mauliah bercanda dengan Bayi El yang digendong Tabrani saat disambangi Jawa Pos di rumahnya pada Kamis (14/9).

Bangun Malam Hanya Minta Air Minum

Bersama-sama dengan bayi lelakinya selama 22 jam sehari setelah melahirkan, Siti Mauliah merasa ada yang salah ketika pulang ke rumah pada 20 Juli 2022. Bayi lelaki dalam pelukannya itu berbeda dengan yang dia gendong dan dia buai pada malam kedua di rumah sakit. Keresahannya terbukti sekitar setahun kemudian.

MINGGU siang, 10 September lalu, menjadi hari bersejarah bagi Siti. Sekitar pukul 12.00 WIB, dia dan Bayi Gal tiba di rumah Dian Prihatini. Dua perempuan yang sama-sama warga Kabupaten Bogor itu melahirkan di RS Sentosa pada 18 dan 19 Juli 2022. Karena keteledoran pihak rumah sakit, gelang penanda bayi bertulisan nama ibu yang sama: Dian. Tertukarlah dua bayi yang kini masing-masing berusia 13 bulan itu.

Saat kali pertama dipertemukan untuk kemudian dikembalikan ke ibu kandung mereka, Bayi Gal dan Bayi El sangat kooperatif. ’’Alhamdulillah berjalan lancar. Anak-anaknya juga mau, tidak rewel,’’ kata Siti saat disambangi Jawa Pos di rumahnya, kawasan Ciseeng, Kamis (14/9). Dalam perjalanan pulang dari rumah Dian, menurut dia, Bayi El sempat tertidur di dalam mobil.

Sebenarnya, hari itu, Bayi Gal dan Bayi El sempat dipersiapkan untuk menginap di rumah yang sama. Rumah yang difasilitasi Polres Bogor itu hendak dipakai menginap oleh Siti dan Dian bersama suami masing-masing dan kedua bayi yang tertukar. Itu menjadi langkah antisipatif untuk membantu adaptasi Bayi Gal dan Bayi El dengan orang tua kandung yang baru mereka jumpai setelah 13 bulan berlalu.

Namun, mereka hanya menggunakan fasilitas rumah itu selama sehari. Karena adaptasi Bayi Gal dengan Dian berjalan lancar, demikian pula Bayi El dan Siti, kedua pihak sepakat untuk langsung membawa pulang buah hati masing-masing. Mereka ingin segera menjalani kehidupan normal sebagai keluarga biasa, karena sempat tertunda 13 bulan dan harus melewati serangkaian drama, termasuk tes DNA.

’’Alhamdulillah, sampai hari ini El baik-baik saja. Begitu pun Gal, di sana juga betah,’’ ungkap Siti. Adaptasi di rumah pun berjalan lancar. Sejak malam pertama tidur di rumah orang tua kandungnya, Bayi El tidak rewel.

Siti yang tidur di sebelah Bayi El mengatakan, anak keempatnya itu relatif gampang ditidurkan. Pada malam pertama di rumahnya, Bayi El hanya sekali bangun pada malam hari. Itu pun sebatas minta air minum. ’’Tidak mau susu formula. Dikasih susu, botolnya dilempar. Mintanya air putih,’’ ujar Siti.

Sebelumnya, saat tinggal bersama Dian, Bayi El biasa mengonsumsi ASI. Soal makanan, Bayi El juga tidak pilih-pilih. Pada pagi pertama di rumah Siti, Bayi El menyantap bubur bayi yang disediakan sang ibu. Setelah itu, dia jalan-jalan bersama tetangga sekaligus kerabat Siti.

Jika semuanya berjalan lancar untuk Bayi El, bagaimana dengan Siti sendiri? Saat Jawa Pos tiba di rumahnya, Siti sedang menjalani konseling bersama relawan di ruang tamu. Beberapa kali terdengar suara perempuan 37 tahun itu memberat. Dia jelas menahan tangis.

Tak lama kemudian, Bayi El yang sedang tidur tiba-tiba terbangun. Dia mencari Siti. Siti pun langsung memangku anak bungsunya itu. Seketika Bayi El menjadi tenang. Dia lantas melahap habis sosis sambil sesekali minum air putih dari botol. ’’Ya gini ini, maunya air putih. Jadinya El disapih dini,’’ papar Siti.

Kendati sudah mengasuh anak kandungnya, ternyata hati Siti masih berat berjauhan dengan Bayi Gal. ’’Bayangkan, satu tahun saya hidup dengan Gal. Setiap hari saya mengasuhnya, lengket sekali,’’ ucapnya.

Bayi Gal yang gemar mengonsumsi susu formula itu sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Jika pintu rumah Siti tidak dikunci, Bayi Gal bisa lari ke teras dan lanjut sampai jalan kampung. Selain itu, hampir tiap satu jam, Bayi Gal akan minta dibuatkan susu. ’’Mamah, susu!’’ kata Siti, menirukan ucapan Bayi Gal.

Kalau sudah minta susu tapi tidak segera dibuatkan, Bayi Gal akan berjalan sendiri ke dapur, mengambil botol, dan menyodorkannya kepada Siti.

Untuk memperlancar adaptasi dengan orang tua kandung masing-masing, Siti dan Dian sepakat untuk tidak saling bertemu dulu. Sampai 29 September nanti, mereka fokus membangun kelekatan dengan anak kandung masing-masing. Nanti, mereka akan bertemu lagi pada hari yang ditentukan bersama sebagai hari serah terima resmi dua bayi yang tertukar itu. Polres Bogor kembali menjadi fasilitator.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore