Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Agustus 2023 | 17.07 WIB

Semua Menyambut Hangat Midun yang Bersepeda ke Jakarta untuk Ingatkan Tragedi Kanjuruhan, Kecuali SUGBK

PERJALANAN PANJANG: Pak Midun di depan SUGBK Jakarta, Senin (14/8). Dia tidak diizinkan membawa sepedanya masuk ke dalam kompleks. - Image

PERJALANAN PANJANG: Pak Midun di depan SUGBK Jakarta, Senin (14/8). Dia tidak diizinkan membawa sepedanya masuk ke dalam kompleks.

JawaPos.com - "Bagaimana mau menyuarakan (keresahan, Red) ? Wong mau masuk saja nggak boleh. Pintunya kuat. Apalagi pintu pintu yang lain". Itulah ungkapan kekecewaan Miftahudin Ramli alias Midun di depan pintu gerbang VIP barat Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, kemarin (14/8) siang. Wajahnya tertunduk lesu. Penuh kecewa.

Sebab, jauh-jauh bersepeda dari Batu, Jawa Timur, untuk mengingatkan semua orang bahwa pengusutan tragedi Kanjuruhan yang merenggut ratusan nyawa itu belum tuntas, Midun dan sepedanya ternyata tidak bisa masuk ke SUGBK. Padahal, dia hanya ingin mengelilingi ring road kompleks stadion yang identik dengan sepak bola nasional tersebut.

Midun seorang aparatur sipil negara Dinas Pariwisata Kota Batu, Jawa Timur. Dia mulai bersepeda di Kota Batu pada 5 Agustus pukul 10.30 WIB dan tiba di Jakarta pada 13 Agustus sekitar pukul 22.00 WIB.

Sepanjang rute perjalanannya, berbagai kelompok suporter dan masyarakat menyambutnya hangat, tak terkecuali di Surabaya, kota yang selama ini dianggap ’’berhadapan” dengan Malang untuk urusan sepak bola. Semua mendukung misi yang dibawanya: bahwa tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 itu belum tuntas diusut meski sejumlah orang telah diadili.

Semua menyambutnya hangat. Kecuali di SUGBK. ”Saya sudah sampai, tapi mereka tidak menghendaki untuk masuk. Saya pikir itu (Midun dilarang masuk SUGBK) bukan kehendak para petugas di sini, saya yakin itu,’’ ungkapnya.

Midun sudah berusaha keras bernegosiasi dengan petugas. Negosiasi dibantu Sekretaris Jenderal Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia (PNSSI) Richard Achmad. Tapi, negosiasi buntu. Midun hanya bisa berdiri sampai gerbang luar VIP barat. Dia dan sepedanya tidak bisa masuk ke dalam.

”Kalau saya disuruh masuk ke dalam sendirian, ngapain. Yang penting kan itu (sepeda),’’ tegasnya.

Bagi Midun, sepeda yang ditunggangi tidak hanya menjadi ”sahabat sejati’’. Sepeda yang dimodifikasi menjadi roda tiga itu adalah media untuk menyuarakan keresahan hatinya.

Sepeda itu dipasangi keranda dengan kain warna hitam bertulisan Justice for Kanjuruhan. Itu terdapat di bagian kiri keranda. Pada bagian lain, ada juga tulisan angka 135, jumlah korban tragedi terkelam sepak bola Indonesia tersebut.

Di bawah keranda itu, ada potongan kardus berwarna cokelat. Kardus tersebut bertulisan, ”Pak Jokowi waktu di rumah sakit Saiful Anwar bilang usut tuntas mana??? Sudah 10 bulan. Apakah karena orang kecil? Tragedi Kanjuruhan (merupakan) pelanggaran HAM berat!!!”

Midun meminta maaf kepada para keluarga korban tragedi Kanjuruhan karena tidak bisa menyempurnakan misinya. Padahal, Senayan adalah tempat yang pas untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap belum tuntasnya pengusutan tragedi Kanjuruhan. (fiq/c19/ttg)

PERJALANAN MENCARI KEADILAN 

- Dari Batu: 5 Agustus, pukul 10.30

- Sampai Jakarta: 13 Agustus, pukul 22.00

- Rute: Kota Batu–Stadion Kanjuruhan, Stadion Gajayana, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Jatibarang, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, finis di Jakarta

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore