Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juli 2023 | 21.27 WIB

Kemenkes Beberkan Bullying di Dunia Pendidikan Kedokteran, Dari Jadi Pembantu Pribadi hingga Kurir Laundry

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyerukan agar masyarakat yang belum divaksinasi Covid-19 hingga booster untuk segera mengakses layanan di fasilitas kesehatan terdekat. - Image

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyerukan agar masyarakat yang belum divaksinasi Covid-19 hingga booster untuk segera mengakses layanan di fasilitas kesehatan terdekat.

JawaPos.com - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin membeberkan praktik perundungan terhadap peserta pendidikan kedokteran spesialis (PPDS) di rumah sakit-rumah sakit yang masih langgeng di Indonesia. Mulai dari menjadi pembantu pribadi hingga kurir laundry.

Budi menjelaskan, ada kelompok di mana peserta didik ini diperlakukan sebagai asisten, sekretaris, hingga pembantu pribadi. Mereka diperintah mengantarkan cucian ke laundry, bayar laundry, hingga antar jemput anak dokter senior. 
 
Bahkan, ia mengatakan bahwa ada PPDS yang diminta mengeluarkan biaya hingga puluhan juta untuk kepentingan pribadi oknum dokter spesialis. 
 
 
“Kasus itu tidak pernah berani disampaikan oleh para junior dan akibatnya begitu dia jadi senior dia melakukan hal yang sama," ujar Budi dalam keterangannya, Minggu (23/7).
 
"Oleh karena itu kita berusaha untuk semua rumah sakit vertikal di Kemenkes untuk memutus praktik perundungan pada program pendidikan spesialis kedokteran. Kita akan jalankan ini dengan tegas,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, Budi mengatakan telah menanyakan perundungan tersebut kepada beberapa PPDS yang menjadi korban. Beberapa di antaranya mengaku mengalami stres karena mendapatkan tekanan pekerjaan yang tidak berhubungan dengan kedokteran. 
 
 
“Kami mulai memanggil dokter-dokter spesialis di lingkungan rumah sakit Kemenkes, dan kami menemukan bahwa praktik perundungan yang dialami oleh dokter umum maupun peserta didik dokter spesialis di rumah sakit vertikal sudah terjadi puluhan tahun,” ungkapnya.
 
Perundungan ini, kata Budi, menyebabkan kerugian bukan hanya mental, tapi fisik dan finansial bagi peserta didik. Modus pembentukan karakter dokter-dokter muda biasa menjadi alasan perundungan.
 
 
“Praktik perundungan ini kalau saya tanya ke pimpinan rumah sakit selalu dijawab tidak ada, saya nggak tahu apakah ini denial. Tapi kalau saya tanya ke dokter peserta didik selalu ada kasus perundungan,” pungkasnya.
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore