
Margot Robbie dalam Wuthering Heights (IMDb)
JawaPos.com – Film Wuthering Heights garapan Emerald Fennell kembali menarik perhatian publik melalui pendekatan adaptasi yang tidak konvensional.
Sutradara tersebut menghadirkan tafsir modern atas kisah klasik Emily Brontë dengan gaya visual dan naratif yang provokatif.
Sejumlah elemen artistik, pemilihan pemeran, hingga perubahan struktur cerita menjadi sorotan utama dalam ulasan film ini.
Berikut 5 hal yang mencerminkan penilaian kritis terhadap film Wuthering Heights karya Emerald Fennell, seperti dilansir dari laman The Guardian pada Rabu (11/2).
Emerald Fennell menampilkan Wuthering Heights sebagai karya dengan gaya visual berlebihan dan penuh sensasi. Film ini memadukan estetika pemotretan mode dengan narasi drama romantik klasik. Pendekatan tersebut menciptakan suasana yang dinilai ganjil dan hiperbolik. Kekonyolan visual dianggap mendominasi alih-alih memperkuat emosi cerita.
Cathy digambarkan sebagai sosok yang emosional, flamboyan, dan rapuh secara psikologis. Sementara itu, Heathcliff tampil sebagai figur murung dengan transformasi visual yang cukup drastis. Relasi keduanya ditampilkan lebih sebagai atraksi emosional daripada konflik batin mendalam. Penafsiran ini dinilai menjauh dari kompleksitas karakter dalam novel aslinya.
Fennell secara signifikan menyederhanakan alur cerita dengan menghapus sejumlah karakter penting. Bagian kedua novel yang membahas generasi penerus sepenuhnya dihilangkan. Perubahan tersebut membuat cerita terasa terputus dari kedalaman tematik aslinya. Adaptasi ini dinilai lebih mementingkan gaya dibanding kesinambungan naratif.
Film ini menyentuh tema relasi kuasa dan kekerasan emosional dengan pendekatan yang dianggap ringan. Beberapa konflik serius direduksi menjadi elemen estetika semata. Hal tersebut memunculkan kritik terkait ketidakseimbangan antara pesan dan penyajian. Tema gelap novel dinilai kehilangan bobot moralnya.
Secara keseluruhan, Wuthering Heights versi Fennell dinilai kurang memberikan dampak emosional yang kuat. Film ini dianggap tidak setajam karya-karya Fennell sebelumnya. Nuansa emosional yang muncul terasa artifisial dan berjarak. Adaptasi ini dipandang lebih sebagai eksperimen gaya daripada eksplorasi makna cinta tragis.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
