
5 Centimeters Per Second. (Istimewa)
JawaPos.com - Kurang lebih 19 tahun yang lalu pada 2007, nama sineas Jepang Makoto Shinkai mencuat di peta perfilman dunia setelah ia merilis sebuah film animasi fenomenal berjudul 5 Centimeters Per Second. Oleh banyak orang, baik dari kalangan penggemar maupun praktisi, film ini disebut sebagai salah satu film animasi Jepang paling berpengaruh dan terbaik sepanjang masa.
Mengusung tema cinta, penyesalan dan penerimaan nasib, film ini sukses menyentuh hati para penontonnya karena premis yang begitu relate dengan kehidupan nyata banyak orang. Tanpa bumbu isekai, tanpa adu jurus dengan kompleksitas cerita yang memaksa otak bekerja, tanpa efek visual yang bombastis.
Berangkat dari reaksi positif yang membuncah itu, versi live action dari 5 Centimeters Per Second akhirnya digarap. Disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama, film ini dibintangi oleh Hokuto Matsumura, Mitsuki Takahata, Nara Mori, Yuzu Aoki dan banyak lagi.
Seperti versi animasinya, film ini berpusat pada kisah asmara antara Takaki Tono (Hokuto Matsumura) dan Akari Shinohara (Mitsuki Takahata). Menjalin persabatan sejak duduk di bangku SD, benih cinta perlahan mulai tumbuh di antara keduanya.
Sayang, keduanya harus berpisah lantaran Akari harus pindah dari Tokyo ke kota lain bersama orang tuanya. Meski keduanya terus menjalin komunikasi dengan berkirim surat, hubungan jarak jauh yang menjemukan pada akhirnya betul-betul menjadi penghalang yang tidak bisa mereka lawan.
Tersiksa menyimpan rasa. Teraniaya oleh panah asmara. Takaki dan Akari pun harus menjalani hidup mereka masing-masing, tanpa pernah menyampaikan perasaan mereka satu sama lain.
Bagi yang menonton versi animasinya, 5 Centimeters Per Second versi live action ini seakan ingin menyelami lebih dalam pergumulan Takaki dan Akari dengan lebih nyata. Jika animasinya hanya berdurasi 63 menit, sutradara Yoshiyuki Okuyama membungkus film ini nyaris dua kali lebih lama, yakni 121 menit.
Alih-alih menyajikan adegan yang plek-ketiplek, sang sutradara memasukkan sejumlah adegan baru yang tidak ada di animasinya. Walau hal ini membuat pace film menjadi cenderung lambat dan mungkin terkesan slow burn, namun, adegan-adegan ini sama sekali tidak menciptakan sebuah sub-plot baru atau mengaburkan fokus film ini.
Sebaliknya, adegan-adegan tersebut justru membuat 5 Centimeters Per Second versi live action ini lebih 'berdaging' dan manusiawi. Penonton jadi lebih bisa memahami dan ikut merasakan apa yang dirasakan Takaki dan Akari.
Film ini juga tidak dibagi dalam tiga babak seperti pendahulunya. Di versi animasinya, kisah bergulir secara runut mulai dari Takaki dan Akari masih bersekolah bersama, hingga kemudian beranjak dewasa. Setiap babak juga diakhiri oleh credit title layaknya sebuah film seri.
Namun, hal ini tidak diadaptasi oleh sutradara Yoshiyuki Okuyama. Seolah tidak ingin memberi penonton kesempatan 'bernapas', sang sineas menggulirkan terus ceritanya tanpa ada jeda sedikitpun. Hal ini sukses membuat penonton betul-betul hanyut dalam suasana gloomy yang dialami Takaki dan Akari.
Dalam versi live action, cerita utama dimulai dari babak akhir versi animasinya ketika Takaki dan Akari sudah beranjak dewasa dan tengah disibukkan oleh aktivitas masing-masing sembari masih tengiang-ngiang masa lalu yang pedih namun indah.
Dari segi akting, tidak berlebihan rasanya jika para lakon di dalam film layak diberikan apresiasi tinggi. Para pemeran tokoh Takaki dan Akari, baik versi dewasa maupun versi anak kecil, menjalankan peran mereka dengan begitu baik. Chemistry yang terjalin dalam setiap dialognya pun begitu kental terasa.
Tak hanya dua tokoh sentral tersebut, para aktor dan aktris pendukung yang lain juga berhasil membuat film ini begitu hidup. Akting Nana Mori, yang berperan sebagai Kanae Sumida yang menyimpan rasa pada Takaki, juga patut diacungkan jempol.
Suasana yang begitu biru dalam 5 Centimeters Per Second juga disempurnakan dengan kehadiran kembali lagu 'One More Time, One More Chance' yang dipopulerkan Masayoshi Yamazaki dalam versi animasinya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
