
Poster horizontal Mr. Hiiragi
JawaPos.com - Seorang guru memiliki salah satu pekerjaan paling mulia, bertugas untuk mendidik generasi berikutnya secara akademis dan mental. Dari merekalah, kita menjadi manusia yang pintar dan berguna bagi orang-orang di sekitar. Mereka juga bertugas meluruskan jalan siswa-siswi agar tidak gagal atau melakukan hal buruk. Dengan bantuan mereka, kita dapat mengerti apa yang baik dan benar.
Terkadang, guru harus mengambil peran orang tua apabila dibutuhkan. Ketika orang tua kandung tidak dapat terus mengawasi, para guru dengan cepat mengisi kursi mereka. Dan terkadang pula, para guru harus mengambil jalan ekstrem untuk mendidik murid-muridnya, seperti yang dilakukan Pak Ibuki Hiiragi selama sepuluh hari terakhir sebelum anak-anak walinya di kelas 3-A lulus SMA.
Dalam mini seri televisi Mr. Hiiragi's Classroom (2019), atau dengan judul asli 3 Nen A Kumi: Ima kara Mina-san wa, Hitojichi Desu, kita dapat melihat bagaimana seorang guru harus menggunakan metode di luar nalar untuk mendidik murid-muridnya.
Pak Ibuki Hiiragi (Suda Masaki) adalah guru kesenian di sebuah SMA. Ia baru-baru ini ditugaskan menjadi wali kelas tiga, padahal baru bekerja di sekolah itu selama dua tahun. Selama di sana, salah satu dari 30 murid walinya, Reina Kageyama (Kamishiraishi Moka), bunuh diri. Namun, motif bunuh dirinya tidak pernah benar-benar jelas.
Reina dulunya adalah salah satu atlet renang kebanggaan SMA-nya, ia bahkan mengungguli kapten klub renangnya. Tetapi, prestasinya hancur akibat rumor penggunaan obat doping. Akibat gosip itu, ia juga kehilangan teman-temannya hingga mengalami perundungan dari teman-teman sekelasnya.
Walaupun begitu, Pak Hiiragi tetap menjadi wali kelas dan guru yang baik bagi Reina dan teman-temannya. Sampai Reina tiba-tiba meninggal.
Pak Hiiragi yang tiba-tiba kehilangan seorang muridnya dan mengetahui kisah terdalam Reina, memutuskan untuk memberikan para murid Kelas 3-A satu pelajaran terakhir sebelum kelulusan mereka.
Pada awalnya, kita akan mengira Pak Hiiragi akan membalaskan dendamnya kepada anak-anak murid lainnya. Tapi ternyata, melalui mereka, ia berhasil memecahkan banyak permasalahan yang dialami oleh setiap muridnya hingga berhasil menggali kebenaran dari kematian Reina.
Melalui mini seri ini, kita dapat melihat anak-anak yang tumbuh besar dari berbagai latar belakang dan usaha-usaha mereka untuk menjadi dewasa. Kita juga dapat melihat banyaknya orang-orang dewasa yang gagal dan menjadi pelajaran bagi paraa murid-murid. Ada yang harus merelakan penampilan demi beasiswa olahraga, ada yang kesulitan membangun hubungan pertemanan, ada yang sudah tahu cita-cita mereka dan berusaha melalui cara apa pun untuk meraihnya, hingga ada yang terbutakan oleh kilauan lampu panggung sampai lupa daratan.
Seri ini mendapatkan skor 7.4/10 di IMDb, 8.6/10 di MyDramaList, dan 92 di AsianWiki. Penonton dari umur 13 tahun ke bawah tidak disarankan untuk menonton seri ini karena banyaknya adegan grafis dan isu-isu sosial yang berat. Namun, pelajaran hidup yang didapatkan sangat baik untuk para pelajar.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
