Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 September 2025 | 16.40 WIB

The Wonderful Story of Henry Sugar: Saat Wes Anderson Membawa Roald Dahl ke Layar dengan Sentuhan Teatrikal

Benedict Cumberbatch dalam film Wonderful Story of Henry Sugar and Three More karya Wes Anderson. (Pluggedin) - Image

Benedict Cumberbatch dalam film Wonderful Story of Henry Sugar and Three More karya Wes Anderson. (Pluggedin)

JawaPos.com - Film antologi karya Wes Anderson, The Wonderful Story of Henry Sugar and Three More, yang dirilis pada 15 Maret 2024 dan langsung mencuri perhatian para penikmat sinema dunia.

Mengadaptasi empat cerita pendek dari penulis legendaris Roald Dahl, film ini bukan hanya sebuah penghormatan terhadap literatur klasik, tetapi juga eksplorasi visual yang khas dari sang sutradara eksentrik.

Film ini terdiri dari empat segmen, yakni The Wonderful Story of Henry Sugar, The Swan, The Ratcatcher, dan Poison. Masing-masing diangkat dari kumpulan cerita The Wonderful Story of Henry Sugar & Six More karya Dahl, dan disajikan dengan gaya teatrikal yang unik.

Anderson mempertahankan narasi asli Dahl, bahkan membiarkan para aktor membacakan langsung teks cerita, menciptakan pengalaman sinematik yang menyerupai pertunjukan panggung.

Dengan durasi 88 menit, film ini menampilkan transisi adegan dan kostum secara langsung di depan kamera, dibantu oleh para stagehand yang terlihat jelas. Teknik ini bukan sekadar gimmick, melainkan bagian dari estetika Anderson yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi.

Film ini dibintangi oleh Benedict Cumberbatch sebagai Henry Sugar, Ralph Fiennes sebagai Roald Dahl, serta Dev Patel, Ben Kingsley, Richard Ayoade, dan Rupert Friend yang memerankan berbagai karakter di tiap segmen. Kehadiran mereka memberikan nuansa dramatis sekaligus komikal yang memperkuat karakterisasi cerita.

Segmen-Segmen dalam Film

1. The Wonderful Story of Henry Sugar: Dari Judi ke Pencerahan

Segmen utama, The Wonderful Story of Henry Sugar, mengisahkan seorang pria kaya yang menemukan kemampuan melihat tanpa mata setelah membaca laporan medis tentang Imdad Khan, seorang pesulap yang bisa "melihat" meski matanya tertutup rapat. Henry kemudian menggunakan kemampuan ini untuk menang di kasino, sebelum akhirnya memilih jalan filantropi.

2. The Swan: Puisi Kesedihan dan Harapan

The Swan menjadi segmen paling menyentuh, mengisahkan seorang anak laki-laki yang diintimidasi dan dipaksa melakukan aksi berbahaya. Dengan gaya narasi yang puitis dan visual yang melankolis, Anderson mengangkat tema trauma dan ketahanan jiwa anak-anak.

3. The Ratcatcher: Eksentrik dan Gelap

Segmen ini menghadirkan karakter pembasmi tikus yang aneh dan obsesif. Dengan nuansa gelap dan humor khas Anderson, cerita ini menjadi potret grotesk tentang obsesi dan kegilaan yang tersembunyi di balik profesi sehari-hari.

4. Poison: Ketegangan dalam Diam

Poison adalah segmen paling tegang, mengisahkan seorang pria yang terbaring diam karena seekor ular berbisa tidur di dadanya. Dengan latar kolonial dan dialog yang intens, cerita ini menggambarkan ketakutan dan prasangka rasial secara subtil namun tajam.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore