
Poster promosi drama miniseri Lessons in Chemistry dari AppleTV+ (Dok. Apple.com)
JawaPos.com - Pelajaran kimia atau ilmu kimia sendiri adalah sebuah ilmu yang tidak semua orang dapat dikuasai dengan mudah. Apalagi di era dimana diskriminasi antar gender masih sangat kental.
Pada era 1950-an, diskriminasi antar gender dan warna kulit masihlah sangat kental hingga terkadang sampai terjadi pertengkaran fisik.
Kita dapat menonton diskriminasi yang dirasakan oleh Elizabeth sebagai jenius kimia di era itu dalam drama miniseri 'Lessons in Chemistry.
Dilansir dari Apple TV+ Press, drama ini menunjukkan kehidupan seorang ilmuwan perempuan bernama Elizabeth Zott (Brie Larson) yang terus berseteru dengan komunitas saintis karena pandangan patriarkis mereka.
Elizabeth awalnya bekerja sebagai teknisi lab di Institusi Penelitian Hastings, namun disana ia tidak dapat bekerja dengan nyaman karena diskriminasi yang ia alami. Tidak hanya karena Elizabeth adalah perempuan, tapi juga karena ia tidak memiliki gelar PhD.
Tidak lama setelah itu, ia bertemu dengan Dr. Calvin Evans, seorang peneliti yang menjadi bintang utama institusi tersebut. Tidak hanya karena kepintarannya, tapi juga karena ketampanannya.
Calvin perlahan-lahan menjadi tertarik kepada Elizabeth. Pertama, karena ia sangat berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang pernah Calvin temui. Elizabeth memiliki kepintaran yang sangat tinggi dan tidak biasa bagi perempuan pada zaman tersebut.
Serta, Elizabeth sangat pintar memasak. Elizabeth memadukan ilmu kimia yang ia ketahui dan ia pelajari selama ini dengan bakat memasaknya. Kedua hal tersebut membuat semua masakan Elizabeth sangat enak.
Dengan kepintaran Elizabeth itu, Calvin merekrutnya sebagai asisten penelitiannya. Terutama dengan tekanan dari pengawas mereka agar penelitian tersebut mendapatkan hasil yang memuaskan, serta karena institusi tersebut mendapatkan banyak sponsor berkat penelitian Calvin.
Seri ini memiliki alur maju mundur, dimana kita dapat melihat adegan tujuh tahun ke depan dan beberapa tahun sebelumnya satu demi satu.
Tujuh tahun setelah pertemuan Elizabeth dan Calvin, mereka dikaruniai seorang putri. Akan tetapi, Elizabeth kehilangan pekerjaannya di institusi tersebut.
Namun, kemampuan memasak dan kecerdasan dalam dunia kimia Elizabeth menarik perhatian seorang produser acara televisi.
Produser acara televisi Water Pine (Kevin Sussman) baru saja menghadapi kesulitan karena ia harus menghentikan salah satu acaranya akibat kurangnya penonton.
Tapi, ia sangat yakin bahwa Elizabeth akan sukses sebagai pembawa acara televisi karena keunikannya. Dari situ, mereka menciptakan acara “Supper at Six” yang sesuai perkiraan menjadi acara televisi populer di antara para perempuan terutama ibu-ibu.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
