
Araki memberikan keluarga Joestar ending yang memuaskan dengan mengakhiri rivalitas mereka dengan Dio. (screenrant.com)
JawaPos.com - Jojo’s Bizarre Adventure: Stone Ocean memang memiliki beberapa kekurangan, tetapi ending-nya adalah salah satu kekuatan utamanya.
Di antara semua part Jojo, Stone Ocean sering menjadi topik perdebatan sengit di kalangan penggemar. Beberapa setuju dalam keputusannya mengambil arah yang tidak terduga, sementara yang lain merasa kecewa terhadap keputusan-keputusan besar yang diambil dalam ending cerita ini.
Namun, di balik semua itu, Stone Ocean menampilkan salah satu penutup cerita yang paling berani dan emosional dalam sejarah anime. Dengan mematahkan pola lama yang sudah melekat pada seri ini, Araki memberikan ending yang sangat mengejutkan.
Mengutip screenrant.com, ending dari Jojo’s Bizarre Adventure: Stone Ocean dikenal sebagai bagian yang paling kontroversial dalam seri Jojo. Hal ini terjadi karena dua alasan, Jolyne tidak mengalahkan musuh utama secara langsung, dan semesta Jojo di-reset sepenuhnya, mengakhiri garis keturunan Joestar. Banyak penggemar mempertanyakan keputusan ini, tapi banyak yang setuju bahwa keputusan ini adalah langkah brilian yang menandai transisi besar dalam seri.
Salah satu hal yang paling mencolok dari Stone Ocean adalah bagaimana karakter Jolyne berkembang. Tidak seperti Joestar sebelumnya yang cenderung memiliki sifat heroik, Jolyne justru memulai kisahnya sebagai anak berandalan yang menjadi narapidana atas kejahatan yang tak ia lakukan. Namun, alih-alih menyerah, Jolyne justru bangkit dan menjadi karakter yang paling kuat secara emosional di antara semua Joestar.
Dalam perjalanannya, Jolyne membentuk ikatan kuat dengan rekan-rekannya. Yang di mana hubungan ini akan menjadi penting karena pada akhirnya, bukan Jolyne yang mengalahkan Enrico Pucci, melainkan Emporio. Jolyne rela mengorbankan dirinya demi memberi kesempatan pada temannya untuk menyelamatkan dunia dan membunuh Pucci. Ini menunjukkan perubahan besar pada karakter Jolyne yang awalnya egois menjadi pahlawan sejati.
Akhir cerita ini sangatlah berbeda dari formula khas Jojo, di mana protagonis utama selalu menghancurkan musuh terakhir. Alih-alih menjadi sosok penentu, Jolyne memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada generasi berikutnya. Konsep "passing the torch" ini menambah kedalaman emosional dan menjadikan akhir Stone Ocean terasa lebih manusiawi dan berani.
Keputusan Araki untuk mereset dunia Jojo juga menuai pro dan kontra. Banyak penggemar bersedih karena garis keturunan Joestar dihapuskan, tetapi langkah ini memberi Araki ruang untuk merancang dunia dan karakter baru dengan lebih bebas. Hasilnya, part 7 Steel Ball Run menjadi salah satu manga Jojo terbaik bagi kebanyakan penggemar.
Pertarungan terakhir antara Jolyne dan Pucci juga mengandung momen-momen yang tidak terlupakan. Sebelum Pucci mendapatkan kekuatan terakhirnya, Jotaro yang selama ini dikenal selalu bertindak dengan presisi, gagal membunuh Pucci karena kesalahan lemparan.
Saat Pucci mendapatkan kemampuan Made in Heaven yang dapat mempercepat waktu dan dirinya, kemampuan Jotaro untuk memberhentikan waktu menjadi lebih singkat yang membuat pertarungan jadi lebih sengit.
Setelah itu, saat para JoBro menjalankan rencananya untuk melawan Pucci, Jotaro, selagi ayahnya Jolyne Kujo, mendapatkan pilihan terakhir antara membunuh Pucci atau menyelamatkan putrinya, yang membuat dia teriak seperti seorang ayah yang kesulitan, di mana hal ini merupakan pertama kalinya kita melihat Jotaro menunjukan emosi itu.
Lalu, juga ada momen di mana Jolyne mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Emporio. Emporio selagi masih kecil, menangis melihat teman-temannya yang mati. Setelah berhasil membunuh para Jojo dan kru-nya, Pucci akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk mereset dunia. Namun, hal ini dibatalkan oleh Emporio yang mendapatkan disc stand milik Weather Report, yang membuat oksigen di area menjadi 100% membunuh Pucci.
Akhirnya, reset dunia pun tetap terjadi namun kali ini tanpa pengaruh Pucci, dan kita melihat Jolyne dan para kru-nya bertemu dengan Emporio lagi. Namun, mereka bukanlah Jolyne yang kita kenal, melainkan Jolyne yang terlahir di dunia baru, dunia yang bersih dari konflik dan pengaruh jahat Pucci.
Dalam versi ini, mereka hidup tanpa beban takdir yang menimpa mereka di dunia sebelumnya. Nama-nama mereka pun berbeda, namun esensi dan ikatan mereka tetap terasa kuat. Ini menjadi penutup yang emosional dan simbolis: meski perjuangan mereka berakhir dengan pengorbanan, harapan tetap hidup dalam bentuk kesempatan kedua yang lebih damai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
