
JOGET GAYENG: Tua, muda, laki-laki, perempuan, larut berjoget dan berdendang dengan dandanan jadoel . (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Fenomena penonton OM Lorenza, grup orkes Melayu asal Sukoharjo yang menghidupkan kembali dangdut klasik era 1970-1980-an, menjadi sorotan beberapa bulan belakangan. Dengan tagline ”wayahe wong lawas tampil”, penggemar mereka tumbuh secara organik, menyebar ke tiap kota, bahkan lintas generasi. Kini tak hanya wong lawas, generasi Z pun gandrung dangdut jadul ala OM Lorenza.
---
PEMANDANGAN itu salah satunya terlihat saat Orkes Melayu (OM) Lorenza tampil dalam event J-Fest Vol 9 di Jatim International Expo, Surabaya, akhir Maret lalu. Puluhan ribu penonton memenuhi venue, mengenakan dandanan jadul, asyik berjoget santai menikmati suguhan lagu-lagu dangdut klasik yang dibawakan selama sekitar satu setengah jam pada malam itu.
Menariknya, bukan cuma generasi X (kelahiran 1965-1979) atau yang lebih senior, dan generasi milenial (kelahiran 1980-1994), tapi justru banyak dijumpai kawula muda usia belasan tahun dan 20-an tahun atau generasi Z yang larut dalam kemeriahan penonton OM Lorenza.
JOGET GAYENG: Keseruan penggemar OM Lorenza dengan dandanan jadoel dan properti lawas di Jatim International Expo (26/3). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Penampilan mereka necis dan jadul abis. Celana cutbrai, kemeja motif abstrak sampai yang berwarna cerah, sepatu pantofel, topi pet, menjadi ciri khas. Beberapa di antaranya bahkan membawa radio usang yang dipanggul di bahu. Mereka berbaur dengan penonton dari generasi seusia orang tua dan om-pakde mereka, larut berdendang dan berjoget dengan rapi.
Salah satu dari barisan penonton muda OM Lorenza itu adalah Gilang Ahmad Ramadhan, remaja asal Lamongan yang masih duduk di bangku kelas XI SMA. Dia datang ke Surabaya, tak mau ketinggalan penampilan perdana OM Lorenza di Surabaya kala itu. ”Mungkin saya tergolong penggemar baru, setelah tahu dari TikTok. Tampilan unik dan musiknya yang asyik, itu yang bikin jatuh hati sama grup ini,” ungkapnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Moch Rasya Aditya, yang datang bersama empat temannya dari Geluran, Sidoarjo. Mereka kompak berdandan ala fesyen jadul. ”Usia sekarang baru 20 tahun. Saya belum lahir di era tenarnya dangdut klasik tahun 80-an, tapi vibe-nya beda. Seru. Jadinya penasaran nonton langsung ke sini,” kata Rasya yang mengajak teman-temannya sesama penggemar dangdut.
Terlahir Kembali di Era Media Sosial Fenomena OM Lorenza menyebar cepat dari Sukoharjo ke kota-kota lain. Grup orkes Melayu asal Kampung Ngemul, Sidorejo, Bendosari, Sukoharjo yang terbentuk sejak 2000-an itu ”terlahir kembali” di era media sosial. Membangkitkan lagi era dangdut jadul, membuat penggemar lama bernostalgia, sekaligus memperluas jangkauan fans lintas generasi.
Grup ini awalnya digagas oleh Budi Aeromax, kemudian pada 2012 pengelolaannya beralih ke Murjiyanto. Dari panggung kampung ke kampung, kehadiran OM Lorenza membawa kesegaran di tengah ”gempuran” genre dangdut kekinian. Yang jadul itu kini justru menjadi pengalaman yang ”baru” dan menarik perhatian.
Irama musik kendang fiber, petikan mandolin. dan seruling bambu, menghadirkan elemen musik dangdut jadul yang sarat nostalgia. Lagu Tambal Ban oleh Usman Bersaudara yang kerap dibawakan OM Lorenza kembali viral di tahun 2024-2025, Luntang-Lantung yang dibawakan Latif M dan Rita Sugiarto, hingga lagu-lagu Elvie Sukaesih dan raja dangdut Rhoma Irama yang di-cover OM Lorenza kian dikenal oleh kalangan muda.
JOGET GAYENG: Keseruan penggemar OM Lorenza dengan dandanan jadoel dan properti lawas di Jatim International Expo (26/3). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Aris Hidayat, salah satu penggemar OM Lorenza dari kalangan wong lawas, tak mau kalah unjuk kebolehan berjoget dan berdendang. Warga asal Babat, Lamongan itu secara khusus menghadiri konser di Surabaya untuk bernostalgia. ”Saya memang penggemar berat orkes Melayu. Salah satunya, OM Lorenza ini. Nah, serunya OM Lorenza ’mengumpulkan’ penggemar dari beragam kalangan usia, enjoy semua,” ujar Aris sambil berjoget kepada Jawa Pos.
Popularitas OM Lorenza bukan sekadar tren sesaat. Menurut Joko Lodank, salah seorang personel dan pengisi suara di grup ini, basis penggemar mereka tumbuh pesat hingga ke berbagai daerah. ”Di Solo Raya, tempat kami berasal, ada beberapa komunitas fans militan. Mereka sering ikut kami sampai ke luar kota,” tuturnya.
Pascalibur Lebaran, jadwal manggung OM Lorenza saat ini mencapai puncak kepadatan. Mulai awal April hingga pengujung bulan ini sudah penuh. Bahkan, terkadang ada lebih dari satu tempat dalam sehari jika lokasinya berdekatan dan mudah diakses. Terjauh, tutur Joko, ke Malang dan Jakarta.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
