
NANA: Happy Salma (kiri) dan Laura Basuki dalam Before, Now, & Then yang diadaptasi dari novel Jais Darga Namaku.
Film-film Indonesia kian dicintai publik tanah air. Seiring berjalannya waktu, para penikmat film menjadi lebih luwes dalam mengapresiasi tontonan. Jika dulu subtitle dianggap mengganggu, kini justru dianggap perlu karena bisa menjadi acuan informasi.
SUTRADARA Ifa Isfansyah masih ingat masa-masa penggunaan bahasa daerah atau munculnya konten budaya dalam film dianggap basi. ’’Dulu film Indonesia harus berbahasa Indonesia. Bahkan, produser sampai berpikiran jangan ada subtitle (dalam film) kalau mau laku,” katanya saat dijumpai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Rabu (27/3).
Masa-masa yang diceritakan Ifa itu sudah lewat. Sekarang, publik sangat bisa menerima film-film yang dialognya menggunakan bahasa daerah. Fenomena itu direspons baik oleh para produser. Bahkan, beberapa di antaranya justru meminta agar ada muatan budaya lokal dalam film garapan mereka. Petunjuknya pun jelas, bumbu budaya lokal itu harus eksplisit dan beragam. Bisa dari judul filmnya, latarnya, atau dialek para tokohnya.
’’Sekarang lebih mudah (menawarkan film berbudaya ke produser, Red). Bahkan, sekarang produser yang punya keinginan agar filmnya lebih mengangkat culture apa gitu,” papar Ifa. Faktanya, film yang unsur budayanya kental justru menuai apresiasi baik dalam masyarakat. ’’Semakin dekat budayanya dengan penonton, produser semakin senang,” imbuhnya.
Para penikmat film Indonesia, menurut Ifa, tidak lagi risi pada subtitle. Faktor itu memicu perkembangan pesat produksi film. ’’Sekarang orang udah biasa nonton pakai subtitle. Justru bikin keberagamannya lebih banyak,” tutur produser serial Gadis Kretek itu.
Dari sudut pandang sineas, unsur budaya dalam sebuah film merupakan nilai plus. Tidak hanya menjadi lebih diterima oleh penikmat film tanah air yang budayanya beragam, tapi juga oleh masyarakat global. Unsur budaya dalam film Indonesia menjadikan gengsinya naik di mata dunia.
KAMPUNG: Rieke Diah Pitaloka luwes memaknai kebaya saat memerankan Ningsih dalam Before, Now & Then.
Sebagai negara kepulauan yang masyarakatnya majemuk dari Sabang sampai Merauke, Indonesia punya begitu banyak peluang untuk membikin film yang khas. ’’Kalau ngomongin kekuatan film Indonesia ya hanya ini cara memenangkan dari semua karakternya. Nggak ada negara yang lebih beragam dari Indonesia,” terang Ifa.
Ifa menambahkan, untuk menjaga mood publik terhadap film-film dengan muatan budaya lokal, insan film juga harus bisa mempromosikan karya mereka dengan menarik. ’’Jangan template. Film itu kan pekerjaan kreatif. Bukan hanya dari sisi produksi dan skripnya aja, tapi promosinya pun harus kreatif,” ungkapnya.
Bagi Prilly Latuconsina, film bermuatan budaya yang penggarapannya apik juga menjadi promosi tersendiri. ’’Justru buatku itu sesuatu yang sangat positif bisa mempromosikan budaya Indonesia,” tuturnya kepada Jawa Pos.
Menurut pemain film yang belakangan juga menjadi produser itu, film bertema budaya tidak harus saklek menampilkan muatan budaya secara utuh dalam film. Genrenya pun tidak harus drama, biopik, atau sejarah. Film bergenre komedi pun bisa diberi muatan budaya lokal. ’’Produser harus pintar mengemasnya. Kalau nggak, orang akan menganggap film itu menggurui. Jadi tetap harus dikemas dengan cara menghibur dan menyenangkan,” ucapnya. (shf/c17/hep)
---
INDUSTRI FILM INDONESIA SAAT INI
Sumber: Hasil wawancara Jawa Pos

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
