Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Agustus 2023 | 19.09 WIB

Aturan Menikmati Konser Musik Klasik yang Sulit ”Dipatuhi” Generasi Muda

Ilustrasi konser. - Image

Ilustrasi konser.

KETIKA menonton pertunjukan musik klasik, penonton kerap menjumpai berbagai aturan yang sangat berbeda dengan ketika menonton pertunjukan musik genre lainnya. Di antaranya, musik pop, rock, tradisional, hingga jazz.

Beberapa peraturan tersebut kemudian dikenal sebagai etika menonton musik klasik dalam sebuah gedung pertunjukan atau concert hall. Apa saja poin-poin etika yang perlu kita pelajari?

  • Berpenampilan rapi, seperti halnya menghadiri pesta atau resepsi.
  • Datang tepat waktu, Apabila terlambat, penonton harus menunggu sampai penampilan pada urutan perform tersebut telah usai dibawakan.
  • Duduk sesuai nomor kursi. Pada saat konser berlangsung, penonton harus duduk tepat di kursi yang nomornya tertera pada tiket yang dibeli.
  • Penonton hanya diperbolehkan memberikan tepuk tangan pada setiap nomor penampilan selesai dibawakan. Kemudian, tepuk tangan akhir sebagai penghargaan terhadap artistry dan kerja keras para penyaji hanya diberikan di akhir pertunjukan. Tepuk tangan tersebut dilakukan dengan cara berdiri dan dalam durasi yang cukup lama.
  • Tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman selama pertunjukan konser musik klasik sedang berlangsung. Atau, bahkan tidak diperkenankan untuk makan dan minum di dalam gedung pertunjukan.
  • Tidak boleh merekam selama pertunjukan musik klasik berlangsung.
  • Harus mematikan atau mengalihkan ke mode silent ponsel dan perangkat elektronik lainnya selama pertunjukan agar fokus pada penampilan performer yang sudah berlatih lama untuk pertunjukan itu.

Melihat beberapa poin etika dan aturan dalam menonton pertunjukan musik klasik di atas, tak heran jika para generasi muda kurang memahami dan kurang mendapatkan manfaat dalam menonton atau menghadiri pertunjukan musik klasik.

Hal itu dipaparkan dalam hasil penelitian Attracting New Audiences: Attitudes and Experiences in Attending Classical Music Concert of Students in Their Twenties (Mielonen, 2003). Dalam artikel tersebut, Mielonen menyatakan bahwa permasalahan itu berpotensi menimbulkan kemunduran minat generasi muda dalam menghadiri dan memahami musik klasik.

Dalam jiwa entrepreneurial, para praktisi yang bergerak di ranah manajemen pertunjukan perlu melakukan pendekatan dan langkah edukasi sebelum menerapkan aturan yang kemudian menjadi etika menonton musik klasik. Etika yang berasal dari bahasa Yunani Kuno ”ethikos” berarti landasan perilaku yang menjadi dasar suatu kebiasaan.

Maka, etika merupakan hal yang digunakan sebagai panduan dalam menunjukkan rasa tanggung jawab dan tingkat kredibilitas dalam hidup. Sebelum etika berubah dan dipahami sebagai bentuk tradisi dalam menonton pertunjukan musik klasik, para pekerja seni dan manajemen seni perlu melakukan adaptasi dan usaha-usaha edukasi sehingga seluruh kalangan masyarakat, terutama generasi muda Indonesia (dengan jiwa entrepreneurial-nya), bisa memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tepat dalam menonton musik klasik.

Dengan demikian, etika dalam menonton pertunjukan musik klasik dapat diterima, menjadi kebiasaan, dan selanjutnya menjadi tradisi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipahami atau diterima dengan lapang dada, tanpa paksaan dan pertentangan. Yang kemudian dapat juga diterima sebagai bagian dari etika dan kebenaran yang menjelma dalam diri setiap masyarakat, terutama generasi muda. (*)


*) HENRY SUSANTO PRANOTO BMUS BSC MMUS PHD CIPM, Koordinator Creative Management Business: Art Sport Industry Universitas Ciputra

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore