
Ilustrasi konser.
KETIKA menonton pertunjukan musik klasik, penonton kerap menjumpai berbagai aturan yang sangat berbeda dengan ketika menonton pertunjukan musik genre lainnya. Di antaranya, musik pop, rock, tradisional, hingga jazz.
Beberapa peraturan tersebut kemudian dikenal sebagai etika menonton musik klasik dalam sebuah gedung pertunjukan atau concert hall. Apa saja poin-poin etika yang perlu kita pelajari?
Melihat beberapa poin etika dan aturan dalam menonton pertunjukan musik klasik di atas, tak heran jika para generasi muda kurang memahami dan kurang mendapatkan manfaat dalam menonton atau menghadiri pertunjukan musik klasik.
Hal itu dipaparkan dalam hasil penelitian Attracting New Audiences: Attitudes and Experiences in Attending Classical Music Concert of Students in Their Twenties (Mielonen, 2003). Dalam artikel tersebut, Mielonen menyatakan bahwa permasalahan itu berpotensi menimbulkan kemunduran minat generasi muda dalam menghadiri dan memahami musik klasik.
Dalam jiwa entrepreneurial, para praktisi yang bergerak di ranah manajemen pertunjukan perlu melakukan pendekatan dan langkah edukasi sebelum menerapkan aturan yang kemudian menjadi etika menonton musik klasik. Etika yang berasal dari bahasa Yunani Kuno ”ethikos” berarti landasan perilaku yang menjadi dasar suatu kebiasaan.
Maka, etika merupakan hal yang digunakan sebagai panduan dalam menunjukkan rasa tanggung jawab dan tingkat kredibilitas dalam hidup. Sebelum etika berubah dan dipahami sebagai bentuk tradisi dalam menonton pertunjukan musik klasik, para pekerja seni dan manajemen seni perlu melakukan adaptasi dan usaha-usaha edukasi sehingga seluruh kalangan masyarakat, terutama generasi muda Indonesia (dengan jiwa entrepreneurial-nya), bisa memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tepat dalam menonton musik klasik.
Dengan demikian, etika dalam menonton pertunjukan musik klasik dapat diterima, menjadi kebiasaan, dan selanjutnya menjadi tradisi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipahami atau diterima dengan lapang dada, tanpa paksaan dan pertentangan. Yang kemudian dapat juga diterima sebagai bagian dari etika dan kebenaran yang menjelma dalam diri setiap masyarakat, terutama generasi muda. (*)
*) HENRY SUSANTO PRANOTO BMUS BSC MMUS PHD CIPM, Koordinator Creative Management Business: Art Sport Industry Universitas Ciputra

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
