Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Juli 2019 | 23.21 WIB

The Lion King: Saat CGI yang Nyaris Sempurna Jadi Penghalang Nostalgia

THE LION KING Simba (voiced by JD McCrary), Timon (voiced by Billy Eichner) and Pumbaa (voiced by Seth Rogen) - Image

THE LION KING Simba (voiced by JD McCrary), Timon (voiced by Billy Eichner) and Pumbaa (voiced by Seth Rogen)

JawaPos.com - Keapikan teknologi komputer yang kelewat bagus dalam sebuah film ternyata tidak selamanya berdampak positif pada film tersebut. Kasus ini terjadi dalam film The Lion King.

The Lion King sendiri aslinya merupalam film animasi yang tayang pada 1994 silam. Film tersebut meraih kesuksesan luar biasa dan menjadi salah satu karya ikonik Disney yang tidak lekang oleh usia.

Berangkat dari kesuksesan tersebut, Disney lalu me-remake The Lion King dalam konsep live action movie. Konsep ini sudah dilakukan terlebih dahulu kepada film-film animasi legendaris Disney lainnya seperti Aladdin, Cinderella, dan Beauty and The Beast.

Dalam film ini, Simba, Mufasa, Scar, dan deretan tokoh The Lion King lainnya 'disulap' menjadi karakter CGI (computer-generated imagery, Red). Mereka terlihat nyaris sama persis seperti hewan sungguhan.

Namun, justru di sinilah masalah utama The Lion King. Saking bagusnya, penonton malah tidak bisa menikmati ekspresi setiap karakter dalam film tersebut. Mereka tidak ubahnya seperti hewan yang tidak bisa menunjukkan raut wajah sedih, senang, dan kasmaran.

Padahal dalam versi animasinya, The Lion King adalah film yang sarat dengan emosi. Selain gubahan musik Hans Zimmer yang membuat bulu kuduk merinding dan jalan cerita yang sederhana namun mengena di hati, roh film ini ada pada penokohan karaker yang dibuat sangat ekspresif.

Di film remake ini, penonton hampir tidak bisa melihat hal-hal krusial tersebut: Tidak ada lagi ekspresi menyayat hati Simba yang terus dihantui perasaan bersalah setelah kematian Mufasa, wajah bengis dan ambisius Scar saat menyusun rencana kudeta bersama para hyena, bahkan mimik konyol Timon dan Pumbaa saat mereka menyenandungkan 'Hakuna Matata'. Hampir semua adegan akhirnya terlihat datar saja dan menyisakan sedikit rasa sesak di dada.

Untungnya, kekurangan ini bisa sedikit ditutupi dengan totalitas para pengisi suara yang berkecimpung. Donald Glover (Simba), Beyonce Knowles-Carter (Nala), Chiwetel Ejiofor (Scar), Seth Rogen (Pumbaa), dan pengisi suara lainnya boleh dibilang berhasil menggantikan para pengisi suara The Lion King terdahulu dengan deretan dialog yang nyaris sama persis. Bagi yang betul-betul menghayati film animasi The Lion King, kesamaan dialog yang disuguhkan memang membawa sensasi yang menyenangkan.

Kekuatan utama The Lion King tentunya terletak pada lagu-lagu karya Tim Rice dan Elton John yang kembali dikumandangkan. Mulai dari The Circle of Life, Can You Feel The Love Tonight?, Hakuna Matata, dan lainnya, semuanya sukses membawa kembali memori indah masa lalu.

Secara keseluruhan, The Lion King tetaplah sebuah film yang layak dinikmati oleh semua orang, baik untuk anak kecil dan penonton yang belum pernah menonton versi animasinya, maupun mereka yang ingin bernostalgia. Ironisnya, sensasi nostalgia yang ditunggu justru dihalangi oleh teknologi CGI yang nyaris sempurna.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore