Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Desember 2017 | 16.00 WIB

Syarat Film Komedi dan Drama Bisa Putus Dominasi Horor Pada 2018

Dari kiri: Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian dari film Warkop DKI Reborn. Bagian pertama film itu berhasil jadi yang terpopuler di Indonesia - Image

Dari kiri: Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian dari film Warkop DKI Reborn. Bagian pertama film itu berhasil jadi yang terpopuler di Indonesia

JawaPos.com – Dua tahun belakangan ini bisa dikatakan sebagai puncak kesuksesan film Indonesia. Sebab, jumlah penonton di masing-masing tahun begitu tinggi. Pada 2016 misalnya, berhasil menembus 27,6 juta penonton. Sementara pada 2017 baru 23,4 juta dan berpotensi bertambah karena belum tutup tahun.



Berbagai judul dan genre film seperti horor, komedi, drama, action, animasi menghiasi layar bioskop Indonesia. Salah satu tren yang menjadi perbincangan adalah keberhasilan film horor merajai tangga daftar film terlaris sepanjang 2017. Tiga dari lima film terlaris 2017 ditempati oleh film horor yaitu Pengabdi Setan, Danur, dan Jailangkung.



Lantas bagaimana tren industri film pada 2018, apakah masih didominasi film horor?



Produser Rapi Film Sunil Samtani menilai bahwa tren industri film pada 2018 belum bisa diprediksi. Sebab, semua film punya kesempatan dan punya pasar masing-masing. Tentu saja, jika film tersebut digarap dan dipromosikan dengan maksimal.



"Genre apa saja bisa masuk tren 2018. Horor, komedi, dan drama juga jalan. Asal film itu seru, digarap serius pasti oke," kata Sunil Samtani saat ditemui JawaPos.com di kantor Rapi Films, Cikini, Jakarta Pusat, baru-baru ini.



Film komedi memang punya potensi yang tinggi. Itu dibuktikan dengan capaian film Warkop DKI Reborn Part I (2016) yang berhasil menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa setelah menembus 6 juta penonton. Namun, pada tahun ini Warkop DKI Reborn Part II tidak berhasil mendapat jumlah penonton yang sama dan dilewati oleh Pengabdi Setan yang mendapat 4,2 juta penonton. 



Sutradara Joko Anwar menambahkan, film apa saja juga bisa menjadi bagus dan booming pada 2018. Yang penting, kata sutradara 41 tahun itu, karya harus bisa diterima penonton dengan positif. Sebab, film Indonesia bisa maju jika ada kepercayaan dari penonton.



"Film-film yang diciptakan juga harus memainkan teknis dan estetika. Bukan karena ingin jual satu film terus bikin orang pengen nonton saja. Tapi harus supaya orang yang nonton, ingin nonton lagi," katanya di anugerah Piala Maya, Sabtu (16/12).



Joko mengaku bangga akan warna film di 2017 yang juga memenangkan beberapa penghargaan di berbagai festival dan negara. Salah satu film yang mendapat pengakuan internasional adalah Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film thriller itu merupakan karya sutradara Mouly Surya.



Marsha Timothy yang berperan sebagai Marlina menyabet penghargaan Aktris Terbaik di ajang Sitges International Fantastic Film Festival di Catalonia, Spanyol, September-Oktober 2017. Dia mengalahkan para pesaing seperti Nicole Kidman, Masami Nagasawa, dan Monika Balsai.



’’Kalau bisa, peran perempuan feminis lebih banyak lagi walau dengan karakter berbeda. Semoga juga perempuan lebih dapat banyak perempuan di Indonesia,’’ kata Marsha Timothy di anugerah Piala Maya, Sabtu (16/12)



Sutradara Hestu Saputra menambahkan, tren industri film pada 2018 bisa saja sama dengan tahun ini. Alasanya, setiap karya punya penikmat dan segmennya sendiri-sendiri. Misalnya yakni penggemar film horor tentu bakal menonton film sesuai seleranya juga.



"Misal film horor yang selalu ada penikmatnya. Nah, sekarang film horor semakin berkualitas jadi itu menimbulkan kepercayaan sama film lokal. Dan semoga terjadi juga pada genre film apa pun," ucap Hestu Saputra.



Salah satu tren film yang menurut Hestu bisa jadi pilihan di 2018 adalah daur ulang. Banyaknya film remake atau reboot tahun ini diprediksinya masih bisa terulang di tahun depan. Apalagi beberapa judul film remake memang telah melakukan syuting untuk tayang di 2018.



Sutradara Cinta Tapi Beda itu berharap pada 2018 muncul film-film anak. Dia menilai saat ini Indonesia mengalami krisis film anak sejak beberapa tahun terakhir.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore