
Salah seorang Barista di Indonesia Coffee Event 2017
JawaPos.com - Puluhan barista tanah air sedang unjuk kebolehan dalam ajang (Indonesia Coffee Event) ICE 2017 Western Championships, 9-12 Februari 2017 di Kuningan City Mall, Jakarta. Selama empat hari, ajang kompetisi ini akan menampilkan barista-barista dari wilayah Sumatera, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan. Targetnya, untuk membuat profesi barista di Indonesia naik peringkatnya di posisi 10 besar di dunia.
“Di tahun 2015, kita masih di luar peringkat 10 besar. Konsep kita di tahun ini ingin perbaiki peringkat barista Indonesia di dunia. Kami ingin meningkatkan peringkat barista di 10 besar. Sayang banget kan Indonesia negara ketiga penghasil kopi terbesar, tapi kita malah kalah sama negara yang enggak menghasilkan kopi,” tegas Ketua Pelaksana ICE 2017, Cindy Herlin Marta di Kuningan City, Kamis (9/2).
Rangkaian kompetisi barista ICE 2017 sendiri terdiri dari empat cabang lomba yakni Indonesia Barista Championship (IBC), Indonesia Brewers Cup (IBrC), Indonesia Latte Art Championship (ILAC) dan Indonesia Cup Tasters Championship (ICTC). Masing-masing cabang menuntut keahlian yang berbeda-beda dari para pesertanya.
Pada IBC akan menguji kepiawaian barista dalam menyajikan kopi dan melayani pelanggan layaknya di kedai kopi, IBC akan menguji kemampuan seduh manual (manual brewing) para pesertanya, ILAC akan mengetes keahlian pesertanya untuk membuat secangkir latte art yang nikmat dan indah dipandang mata, sementara ICTC akan menguji lidah pesertanya dalam mencicip dan membedakan rasa kopi dari berbagai daerah.
“Kami terapkan sertifikasi penjurian, semua orang yang mau menjuri itu harus tersertifikasi dan diajar oleh juri yang sudah tersertifikasi secara dunia. Ketika jurinya kompeten pasti akan berkualitas hasilnya,” tegas Cindy.
Sebanyak 48 barista yang berkompetisi memiliki keunikan tersendiri. Penilaian tentu fokus pada rasa kopi dan kemampuan (skill) barista. Para barista juga melakukan presentasi untuk bercerita menggambarkan pengetahuan tentang kopi yang disajikan. Misalnya seputar asal kopi dan bagaimana penyajiannya.
“Barista harus punya skill. Kami ada juris sensor yang khusus menilai rasa kopinya saja. Mengandalkan lidahnya. Lalu ada juri technical menilai skill si barista dalam menggunakan mesin, cara flow kerjanya, kebersihan, dan manajemen kerjanya,” kata Cindy.
Soal penilaian rasa, Cindy menjamin penilaian tidak akan bersifat subjektif. Setiap juri memiliki standar penilaian yang menjadi indikator dari setiap kopi yang disajikan barista.
“Soal rasa, kita sudah diajarkan cara menilai kopi supaya enggak subjektif. Kita sudah dikalibrasi mislanya patokan nilai 2,3,4 begini. Tes sensori, aroma tes, bagaiman menilai dengan blind test. Karena kopi kan banyak banget rasanya. Pasti hasilnya berkualitas,” ungkap Cindy. (cr1/JPG)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
