
Seorang penyanyi tradisional Myanmar tampil membawakan Mahāgīta dengan iringan musisi perkusi, memperlihatkan kekayaan warisan musik klasik yang masih hidup hingga kini. (Go Myanmar Tours)
JawaPos.com - Mahāgīta, yang berarti “lagu besar”, merupakan kumpulan lengkap musik klasik Myanmar yang diwariskan sejak masa kerajaan. Musik ini dulu hanya diperdengarkan di istana, namun kini menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Dilansir dari Myanmar Digital News, Mahāgīta bahkan tengah diajukan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, sebuah langkah penting untuk menjaga keberlanjutannya di tengah tantangan modernisasi.
Meskipun usianya sudah berabad-abad, Mahāgīta tidak hilang ditelan zaman. Ia masih hidup melalui praktik kontemporer dan dokumentasi modern.
Dilansir dari Smithsonian Folkways, album “Mahagitá: Harp and Vocal Music of Burma” menampilkan permainan harpa (saung gauk) dan vokal yang memperlihatkan kekayaan repertoar klasik ini, membuktikan bahwa Mahāgīta tetap relevan untuk didengar hingga kini.
Selain menjadi bagian penting dari musik istana, Mahāgīta juga menjadi dasar bagi berbagai pertunjukan seni, baik secara solo maupun dalam ansambel tradisional hsaing waing.
Dilansir dari Go Myanmar Tours, koleksi lagu Mahāgīta terbagi dalam banyak kategori seperti kyo, bwe, patpyo, nat chin (lagu pemujaan roh), hingga yodaya yang dipengaruhi budaya Ayutthaya, sehingga mencerminkan keragaman dan kekayaan budaya Myanmar.
Namun, perjalanan Mahāgīta tidak selalu mulus. Dilansir dari Go Myanmar Tours, sejak era kolonial Inggris musik ini mulai terpengaruh instrumen Barat seperti piano dan gitar, lahirlah genre baru seperti khit haung dan hnaung khit yang lebih fleksibel dibandingkan aturan ketat musik klasik istana. Modernisasi ini membuat Mahāgīta harus beradaptasi agar tetap bertahan.
Meski demikian, tantangan terbesar justru datang dari generasi muda Myanmar yang semakin akrab dengan musik populer global. Dilansir dari Myanmar Digital News, banyak pihak khawatir Mahāgīta bisa kehilangan pendengarnya jika tidak segera dilestarikan melalui pendidikan dan promosi budaya yang tepat.
Upaya pengajuan ke UNESCO dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga warisan ini. Dilansir dari Myanmar Digital News, lembaga budaya nasional menekankan pentingnya dokumentasi, inventarisasi, serta regenerasi musisi agar Mahāgīta tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.
Tak hanya melalui lembaga resmi, pelestarian Mahāgīta juga dilakukan lewat rekaman dan publikasi. Dilansir dari Smithsonian Folkways, rekaman Mahāgīta membantu memperkenalkan musik klasik Myanmar ke audiens global, sehingga suara yang dulu hanya bergema di ruang istana kini bisa didengar lintas generasi dan lintas negara.
Dalam praktik sosial, Mahāgīta masih memiliki ruang tersendiri. Dilansir dari Go Myanmar Tours, musik ini kerap dimainkan dalam pernikahan, festival budaya, hingga pertunjukan teater tradisional, menjadikannya jembatan antara masa lalu dengan masa kini.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya Mahāgīta sebagai simbol identitas nasional semakin menguat. Dilansir dari Myanmar Digital News, beberapa seniman muda mulai memasukkan elemen Mahāgīta ke dalam karya modern mereka, membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi.
Perjalanan Mahāgīta menuju pengakuan UNESCO pada akhirnya bukan sekadar urusan simbolik, melainkan perjuangan menjaga napas budaya. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, Mahāgīta diharapkan terus bergema, bukan hanya sebagai warisan musik klasik kerajaan, tetapi juga sebagai suara kebanggaan Myanmar di panggung dunia. (*)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
