Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 April 2025 | 12.59 WIB

Setelah Kesuksesan Solo Leveling, Adaptasi Manhwa Terbaru Ini Malah Dikecam Fans, Inilah Alasannya

Salah satu adegan anime The Beginning after the End yang memiliki animasi sangat kaku. (screenrant.com) - Image

Salah satu adegan anime The Beginning after the End yang memiliki animasi sangat kaku. (screenrant.com)

JawaPos.com – Siapa sih di sini, penggemar anime yang belum pernah mendengar Solo Leveling? Anime ini sangatlah populer, bahkan penonton yang awalnya tidak menyukai anime pun akhirnya jatuh hati karena aksi epiknya, visual menawan, dan karakter utama yang berkembang dengan sangat dramatis. Kesuksesan Solo Leveling pun menjadi tolok ukur baru bagi adaptasi manhwa ke anime.

Maka dari itu, tak heran antusiasme penggemar terhadap adaptasi anime The Beginning After the End sangat tinggi. Webcomic ini sendiri dikenal luas dengan reputasinya yang tinggi dan telah mengumpulkan lebih dari 1,5 miliar tayangan secara global. Namun sayangnya, adaptasi anime dari seri ini justru mengecewakan para penonton hingga muncul permintaan untuk mengulang produksinya dari awal.

Kualitas Animasi Jadi Masalah Utama

Mengutip screenrant.com, keluhan utama datang dari kualitas animasinya yang dinilai sangat rendah. Banyak penggemar mengkritik bahwa anime ini terlihat seperti presentasi PowerPoint—minim gerakan dan terlalu banyak gambar statis. Bahkan, beberapa menyebut kualitasnya lebih buruk dibandingkan Blue Lock Season 2, yang sebelumnya juga mendapat kritik karena animasi yang dianggap mirip PowerPoint.

Tak hanya soal animasi, penggemar juga tidak suka dengan desain karakter yang dianggap kurang menarik, penggunaan CGI yang berlebihan, narasi yang terlalu banyak, serta banyaknya bagian cerita yang dipotong. Semua ini membuat adaptasinya menjadi terasa datar dan tidak mampu menangkap keseruan dari manhwa-nya.

Kasus ini bukan yang pertama. Adaptasi lain seperti Tower of God Season 2 juga mendapat kritik serupa. Masalah umum dari kurangnya animasi di Jepang terletak pada jadwal produksi yang terlalu ketat, dan juga anggaran yang terbatas. Kondisi ini memaksa studio menggunakan berbagai cara, termasuk memotong kualitas animasi, demi menyelesaikan proyek sesuai tenggat waktu.

Petisi Daring untuk Mengganti Studio

Baru tiga episode sejak tayang perdana pada 2 April lalu, penggemar sudah meluncurkan petisi di Change.org yang menuntut agar proyek anime ini dibatalkan dan digarap ulang oleh studio lain. Dalam petisi tersebut, mereka menganggap adaptasi ini merusak kualitas karya aslinya. Bahkan, mereka juga mengusulkan pendanaan ulang melalui crowdfunding agar mendapat versi yang lebih layak.

Kekhawatiran terhadap Adaptasi Manhwa Lainnya

Kekecewaan ini juga menimbulkan kekhawatiran para penggemar terhadap proyek adaptasi manhwa lainnya, seperti Omniscient Reader’s Viewpoint, yang belum memberikan pembaruan sejak diumumkan pada musim panas 2024. Fans takut tren kualitas buruk ini bisa menyebar ke judul-judul populer lainnya.

Anime The Beginning After the End memang sudah mengkhawatirkan para penggemar tentang animasi manhwa ke depannya. Meski begitu, The Beginning After the End tetap memiliki cerita kuat dan basis penggemar yang besar, dengan tokoh utama Arthur Leywin yang disandingkan dengan Jinwoo dari Solo Leveling dalam hal kekuatan dan perjalanan epik. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore