
Film The Bayou. (Istimewa)
JawaPos.com - Rasanya tidak berlebihan untuk menyebut bahwa film horror survival dengan premis sekumpulan anak muda yang dikejar-kejar buaya kelaparan merupakan sebuah konsep usang di tahun 2025. Ketika konsep ketinggalan zaman ini dipadukan dengan penulisan cerita yang begitu berantakan ditambah dengan kualitas akting para aktornya yang pas-pasan, bisa ditebak bahwa hasilnya adalah sebuah karya yang menyedihkan.
Hal ini yang terjadi pada The Bayou. Disutradarai oleh dan Taneli Mustonen dan Brad Watson, rasanya sulit untuk dimengerti mengapa buah pikir dari dua sineas ini cuma menghasilkan film yang berkualitas buruk dari sisi apapun.
The Bayou menceritakan tentang Kyle (Athena Strates), seorang mahasiswi biologi yang diajak pergi berlibur oleh teman-temannya. Selain untuk liburan, Kyle juga ingin sekalian melarung abu mendiang kakaknya yang tewas dibunuh perampok.
Bersama tiga kawannya, yakni Alice (Madalena Aragao), Malika (Elisha Applebaum) dan Sam (Mohammed Mansaray), mereka menumpang sebuah pesawat kecil menuju Miami, Florida bersama sekelompok kecil penumpang lainnya.
Ketika sedang melintasi kawasan rawa, pesawat yang mereka tumpangi mendadak rusak dan jatuh.
Rasa takut dan frustrasi Kyle dan para penumpang pesawat semakin besar ketika mereka diserang kawanan buaya kelaparan yang menghuni rawa tersebut. Tanpa diketahui oleh Kyle dan yang lain, para buaya di rawa tersebut sudah termutasi oleh obat-obatan terlarang yang hanyut ke sungai akibat baku tembak antara para kartel narkoba dengan aparat hukum, tak berapa lama dari hari ini.
Kyle dan kawan-kawan pun harus menyatukan hati dan pikiran untuk bisa menyelamatkan diri dari para buaya hingga mencapai peradaban.
Dari sinopsis di atas, mungkin sudah bisa dibayangkan bagaimana membosankan dan tertebaknya alur The Bayou. Film ini mungkin bisa sedikit agak terselamatkan jika para pelakon di dalamnya menyuguhkan akting yang menghibur dan meyakinkan.
Sayangnya, itu pun tidak terjadi. Dialog yang ada terdengar begitu kaku. Chemistry para pemainnya pun tidak blend satu sama lain.
Sebagai gantinya, Taneli Mustonen dan Brad Watson justru mengeksploitasi elemen film horor yang paling murahan: jump scare. Bila dilakukan dalam porsi yang pas, jump scare tentu adalah bumbu yang menarik. Namun, beda cerita jika elemen ini diberikan di banyak tempat. Alih-alih membuat sebuah film jadi makin seru, formula ini justru bikin menyebalkan.
Beberapa adegan pun betul-betul terlihat sangat konyol dan tidak masuk logika. Sebut saja misalnya adegan ketika tokoh bernama Frank (Andonis Anthony) sedang menghibur Kyle yang tengah bersitegang dengan Malika. Untuk menenangkan Kyle, Frank melemparkan jokes bahwa ia tidak segan untuk mengakhiri hidup Malika jika ada di posisi Kyle.
Di film-film lain, jokes semacam ini biasanya keluar ketika dua tokoh yang berdialog hanya sedang berdua tanpa keberadaan tokoh yang dibicarakan. Konyolnya, posisi Kyle dan Frank saat itu hanya berjarak satu meter dari Malika. Yang bikin makin konyol, Malika yang sedang marah besar malah tidak merespons sama sekali. Betul-betul cringe dan tidak masuk akal.
Belum lagi adegan di mana Kyle dan kawan-kawannya sedang diburu waktu untuk membuat rakit secepatnya sebelum para buaya keluar dari sarang mereka. Saat sedang mencari kayu, salah satu karakter bernama Alice malah dengan sengaja menghampiri seekor buaya, menusuknya dengan kayu, lalu lari tunggang langgang dikejar buaya-buaya yang marah. Untuk logika film pun, adegan tersebut sama sekali tidak bisa dimaafkan karena betul-betul terlihat bodoh.
Secara keseluruhan, sulit untuk menyebutkan bahwa The Bayou merupakan film horor yang bisa menghibur. Selain sudah tidak relevan dengan zaman, eksekusi payah dan kemalasan penulisan skripnya membuat film ini tidak lebih dari karya murahan dengan plot yang berantakan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
