Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Februari 2022 | 02.48 WIB

Caliphate, Perjuangan Menegangkan Perempuan Keluar dari ISIS

Cuplikan serial Caliphate. (Filmlance International Imaginarium Films) - Image

Cuplikan serial Caliphate. (Filmlance International Imaginarium Films)

Delapan episode dengan ketegangan yang begitu intens. Menampilkan kisah teroris dari sudut pandang perempuan. Serial dari Swedia berjudul Caliphate ini bisa jadi alternatif tontonan yang menantang adrenalin.

---

HANYA ada satu keinginan Pervin (Gizem Erdogan). Segera keluar dari Raqqa, kota di Syria yang diduduki ISIS, dan kembali ke negaranya Swedia bersama bayinya. Ibu muda itu bertaruh nyawa. Diam-diam, dia menjadi informan untuk Fatima (Aliette Opheim), agen Dinas Keamanan Swedia.

Pervin mendapat sebuah ponsel lama setelah salah satu sahabatnya ditangkap petugas. Gawai itulah yang menghubungkannya dengan Fatima. Keduanya membuat kesepakatan. Pervin dan putrinya dijanjikan pulang. Dengan catatan, dia mau menjadi informan Fatima.

Komunikasi dilakukan diam-diam. Tanpa sepengetahuan Husam (Amed Bozan), suami Pervin, seorang muslim Swedia yang memutuskan datang ke Syria untuk bergabung dengan ISIS. Pervin pun membeberkan apa yang berhasil dia curi dengar atau lihat. Sebagaimana keberadaan Al Musafir –kode untuk Ibrahim Haddad atau Ibbe (Lancelot Ncube)– asisten pengajar dengan otak cemerlang di Swedia yang ternyata antek ISIS. Ibbe bertugas melakukan rekrutmen. Plus, merencanakan serangan terorisme.

Ibbe begitu licin beraksi. Dia merekrut anggota muda, yang rata-rata masih berusia sekolah. Di antara korbannya adalah gadis pemain basket hebat di sekolahnya Sulle (Nora Rios) dan adiknya Lisha (Yussra El Abdouni) serta temannya, Kerima (Amanda Sohrabi). Ibbe membuat mereka nyaman, sebelum akhirnya mencuci otak mereka lewat video-video kekerasan atas nama agama.

Situasi dengan cepat memburuk. Pervin nyaris kehilangan nyawa setelah komunikasinya dengan Fatima ketahuan. Ibbe juga berhasil mengirim korbannya ke Syria. Di sisi lain, Fatima juga tersandung masalah di kantornya. Mereka berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri dan keluar dari jerat ISIS.

Caliphate bisa menjadi pilihan tontonan di tengah serbuan judul serial baru di Netflix. Proyek thriller produksi Swedia itu memang bukan rilisan baru. Serial tersebut telah dirilis dua tahun lalu. Namun, isu yang ditampilkan masih relevan. Kemasannya pun menarik. Tim produksi menceritakan pergerakan terorisme dari banyak sisi, terutama dari sudut pandang perempuan.

Ceria yang menegangkan dipadukan dengan sisi emosional yang kuat. Penonton akan dibawa merasakan derita Pervin hidup di lingkungan ISIS yang mengancam jiwanya. Betapa dia sangat ingin pergi, tetapi di sisi lain tak ingin meninggalkan suaminya. Juga ketika melihat Sulle dan Lisha yang meneriaki orang tuanya kafir padahal sebelumnya mereka adalah keluarga yang hangat.

Penulis naskah Wilhelm Behrman menyatakan, ide ceritanya terinspirasi kasus para perempuan Bethnal Green, London. Peristiwa di pertengahan 2010-an itu melibatkan siswi Akademi Bethnal Green, yang berusia 11–18 tahun. Mereka direkrut dengan dalih bakal dilibatkan dalam pergerakan jihad perempuan. ’’Aku sangat marah membaca berita itu, mungkin karena aku punya anak perempuan yang sepantaran dengan mereka,’’ paparnya dalam wawancara dengan Variety.

Behrman menjelaskan, ketika menulis Caliphate, dia sengaja menggunakan narasi rekrutmen terorisme klasik di tiga episode awal. ’’Setelah itu, barulah kami menceritakan drama para perempuan untuk menarik emosi. Kami pikir, kalau cerita radikalisasi ’diobral’ di episode pertama, penonton bakal bosan,’’ imbuhnya.

Ide itu pun mendapat sambutan baik dari produser Tomas Michaelsson. Dalam wawancara terpisah dengan DramaQuarterly.com, Michaelsson menyatakan, Behrman mengajukan ide itu sejak akhir 2014. Saat itu ISIS dan gerakan teroris jadi topik hangat. ’’Pitching Wilhelm kurasa adalah yang terbaik yang kudengar. Aku merasa, kisah ini punya isu kompleks yang urgen untuk diceritakan,’’ imbuhnya.

Michaelsson berharap, Caliphate bisa memancing diskusi buat penontonnya. ’’Aku ingin mereka berempati sekaligus berpikir kritis, bagaimana dan mengapa seseorang ingin mengikuti organisasi seperti ini?’’ lanjutnya. Dia serta Behrman mengaku, meski bukan dokumenter, mereka melakukan pendekatan begitu teliti untuk mendapat gambaran yang otentik.

TRIVIA

- Untuk setting Raqqa, tim produksi melakukan syuting di Amman, Jordania. Biasanya, untuk adegan Timur Tengah, rumah produksi Eropa mengambil banyak lokasi di Maroko atau selatan Spanyol.

- Proses casting para aktor dan aktris muda dinilai paling memakan waktu. Sebab, SVT selaku rumah produksi ingin menampilkan wajah baru yang memiliki bakat akting apik.

- Dalam pengembangan naskah, Behrman bekerja sama dengan sepupunya, Niklas Rockstrom.

- Behrman dan Rockstrom menegaskan, mereka ingin menampilkan proses radikalisasi dari banyak sisi. Mulai mereka yang jatuh cinta pada orang yang salah, memiliki pandangan politik sama, sampai yang sekadar ingin cari tantangan baru.

- Di layanan streaming Swedia SVT Play, Caliphate menjadi serial yang paling banyak ditonton.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore