
HOME: Asha Smara Darra memerankan tokoh utama Sara dengan banyak mengekplorasi diri dan lingkungannya tentang arti pulang ke rumah dan berbakti pada orang tua.
SARA, film drama karya Ismail Basbeth, diputar perdana pada Jumat (6/10) sore di Lotte Cinema, Busan. Film berdurasi 99 menit itu berkisah tentang Sara (Asha Smara Darra), seorang transpuan yang kembali ke rumahnya setelah hampir 20 tahun pergi. Ayahnya meninggal, sedangkan ibunya, Muryem (Christine Hakim), menderita amnesia karena kehilangan sosok yang dicintai.
Ketika melihat Sara, Muryem tidak mengenalinya dan terus-terusan mencari sang suami yang telah tiada. Dalam benak Muryem, dia hanya mengenal Panca, sosok Sara sebelum menjadi transpuan. Sara galau. Dia tidak tega melihat ibunya menderita. Dia juga sedih karena rumah mendadak asing baginya. Namun, Sara juga ingin menunjukkan baktinya kepada sang ibu.
Sara adalah ungkapan personal Ismail. Idenya muncul ketika mengunjungi acara perfilman di Brussel, Belgia. Ketika itu, sutradara asal Wonosobo tersebut bertanya kepada dirinya sendiri. "Aku ini setelah dikenal orang, pergi jauh, lalu mau ke mana lagi ya? Terus, saya juga bertanya tentang kembali ke rumah,” terangnya seusai pemutaran film.
Dia pun lantas membuat kerangka cerita Sara. Ismail sengaja memilih karakter transpuan. "Buat saya, transpuan itu perjuangan lebih besar. Perjalanan mereka menemukan rumah dan diri juga panjang,” papar Ismail.
Namun, Ismail sadar dirinya bukan bagian dari kelompok transpuan. Dia lantas berkonsultasi dengan sejumlah aktivis dan filmmaker yang pernah bersentuhan dengan kelompok transpuan atau perempuan. Salah satunya adalah mendiang Shinta Ratri, pemimpin pondok pesantren transpuan Al-Fatah di Jogja.
Ketika tiba waktunya memproduksi film, Ismail menekankan bahwa sosok transpuan dalam kisahnya juga harus diperankan transpuan. "Dalam benakku, yang muncul adalah Asha. Syukurlah, aku dibantu kenalan sama Bu Christine dan Mama Reggie Lawalata, ibu Asha,” terangnya.
Bagi Asha, Sara adalah momentum kembalinya dirinya ke dunia akting setelah 18 tahun. Film terakhirnya adalah Banyu Biru (2005). "Saya perlu penyesuaian lagi. Makanya, saya sampai belajar akting lagi sama Bu Christine, Mas Mail, dan Bu Jajang C. Noer,” papar Asha.
Oleh Ismail, Asha disarankan menjadi diri sendiri saat memerankan Sara. Namun, Asha dan Sara adalah dua orang berbeda. Asha tetap harus mengenal emosi Sara.
Charlie Meliala, produser Sara yang bertugas dalam hal distribusi, mengatakan bahwa Busan International Film Festival (BIFF) adalah platform yang cocok bagi Sara untuk menemukan penontonnya.
Ismail pun menegaskan bahwa fokus utama Sara adalah sisi kemanusiaannya. Bahwa, siapa pun –terlebih yang merantau– selalu merindukan rumah. Ada yang beruntung karena rumah selalu terbuka dan dekat, ada juga yang berjuang karena rumah terasa asing. "Dan pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak juga pasti dialami semua orang kan?” tandasnya. (len/c7/hep)

Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jadwal dan Link Live Streaming Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang Hari Ini, Kick-off 15.30 WIB di Gelora Bung Tomo
Resmi! Daftar Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang, Alex Martins Starter, Ramadhan Sananta Cadangan
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang: Alex Martins Jadi Mesin Gol Baru Green Force
Prediksi Skor Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026: La Roja Siap Gagalkan Mimpi Indah Lionel Messi Cs
Jude Bellingham dan Harry Kane Cadangan! Ini Susunan Pemain Prancis vs Inggris di Perebutan Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026
