Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Juni 2020 | 02.19 WIB

Jalan Hidup Pamungkas di Dunia Musik: Punya Simpanan Ratusan Lagu

Soloist Rizky Pamungkas. (RIZKY PAMUNGKAS FOR JAWA POS) - Image

Soloist Rizky Pamungkas. (RIZKY PAMUNGKAS FOR JAWA POS)

Hidup Rizky Pamungkas yang dikenal dengan nama panggung Pamungkas tak mudah sejak awal. Terlahir dengan kelainan di bagian usus dan harus dirawat dengan infus, Pam –panggilannya– sempat jadi separuh tuli alias half-deaf karena tekanan dari infus. Namun, separuh tuli rupanya menjadi pintu masuk bagi Pam untuk ’’menyelami’’ dunia musik.

---

Hidup dalam Rahasia

Pam baru benar-benar mengenal musik saat usia 8 tahun. Ibunya, psikolog Hanny Supangat, menyarankan putra bungsunya itu untuk ikut kursus musik sebagai terapi telinganya. Agar Pam terbiasa dengan ritme dan suara meski telinga kirinya tuli.

’’Keluarga dan orang di sekitar saya nggak pernah kasih tahu kalau saya half-deaf. Mereka cuma bilang ke orang-orang, kalau ngomong sama saya harus dari sisi kanan,’’ papar pemuda kelahiran Jakarta, 14 April 1993 itu, saat dihubungi Minggu sore (7/6).

Selain drum, Pam juga belajar gitar dan piano secara otodidak. Bungsu dari tiga bersaudara itu sempat nge-band dengan dua kakak laki-lakinya. Potenzio nama band-nya. Selama itu, Pam tak mengalami kesulitan dalam bermusik meski telinga kirinya tidak berfungsi.

Pada 2011, setelah manggung di Ambon Jazz Festival, telinga kiri Pam tiba-tiba pulih selepas turun dari pesawat. Barulah setelah itu keluarga dan teman-temannya memberi tahu bahwa selama ini dia separuh tuli. Pam pun sadar bahwa dirinya telah hidup dalam rahasia. ’’Begitu telinga saya pulih dua-duanya, saya harus adaptasi lagi dengan banyak suara. Bayangin, suara AC saja bisa terdengar kelewat jelas. Haha...,’’ seloroh lelaki 27 tahun tersebut.

Mulai Bekerja sebagai Kru

Sempat nge-band bersama kedua kakaknya, Pamungkas tak langsung jadi bintang besar. Sang ayah, Yoes Supangat, salah seorang pendiri Oxygen Entertainment, menyarankan Pam untuk belajar musik dengan cara jadi kru. Pam lantas menjadi kru dengan beragam job desk untuk grup vokal Tangga dan band Element. ’’Kebetulan, ayah saya road manager dan stage manager mereka,’’ urainya.

Pengalaman bekerja sebagai kru membuat Pam tahu banyak hal soal musik dari aspek teknis dan pertunjukan. Mulai menyiapkan peralatan, manajemen kegiatan, soundcheck, hingga urusan panggung. Penggemar sepak bola itu juga jadi lebih peduli dan menghargai sesama kru. Sebuah hal yang kelak berguna baginya saat mendirikan label Maspam Records pada 2018.

Pam juga merasakan repotnya bekerja di studio rekaman. Yakni, saat menyiapkan album bersama Potenzio. Segala hal dilakukan sendiri. Tak jarang, alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Paramadina itu bermalam di studio agar akrab dengan proses produksi karya musik. ’’Makanya, begitu selesai homeschooling, saya nggak langsung kuliah. Mau serius di musik dulu,’’ ungkap Pam yang baru mulai kuliah pada 2014.

Tiap Tahun Rilis Album

Kepiawaian Pam dalam bermusik terlihat sejak 2009. Penyuka The Beatles dan Arctic Monkeys itu menganggap berbagai hal dan pengalaman dalam hidupnya sebagai sumber inspirasi lagu. Karena itu, Pam sudah punya ratusan karya di bank data lagunya. Kapan pun bisa menciptakan sebuah lagu, dia akan membuatnya.

Pada 2018 Pam merilis album perdananya, Walk the Talk, di bawah labelnya. Album tersebut merupakan curahan hatinya di momen quarter-life crisis alias usia 25 tahun. Tentang cinta, karir, dan tujuan hidup yang membuat galau. Proses rekamannya hanya 3,5 bulan dengan menggunakan lagu-lagu yang pernah dia ciptakan.

Lagu-lagu di album pertamanya pun jadi hit. Masuk kategori yang paling banyak diputar di platform streaming. Sebut saja Only One, Kenangan Manis, dan I Love You but I’m Letting Go.

Tahun lalu, Pam kembali merilis album. Versi remix Walk the Talk di mana dia menggandeng sejumlah rekan musisi. Pam lantas merilis album kedua, Flying Solo, yang menyuarakan keinginannya untuk lebih mandiri dan bebas. Sekali lagi, pengagum Dewa 19 dan Iwan Fals itu terbantu berkat bank lagu yang belum sempat dirilisnya.

Pertama Dengar, Dikira Penyanyi Luar

Kali pertama mendengar lagu Pam, banyak yang mengira penyanyinya orang asing. Kebanyakan lagu Pam menggunakan bahasa Inggris full. Musiknya juga beda ketika didengar dan diresapi. ’’Pas sama Potenzio, saya lebih banyak nyanyi bahasa Inggris. Jadi, perlu penyesuaian agar lebih lancar nyanyi dalam bahasa Indonesia,’’ jelas Pam yang kerap memasukkan unsur musik elektronik dalam karyanya.

Tunda Tur Asia Tenggara

Tahun ini, Pam seharusnya membuat capaian yang membanggakan. Yakni, mengadakan Flying Solo South East Asia Tour 2020 di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Sebab, berdasar data streaming platform, banyak pendengar lagu Pam yang berasal dari lima negara itu.

Sayang, tur yang direncanakan pada akhir 2019 tersebut urung dilaksanakan karena pandemi Covid-19. ’’Padahal udah dapat venue, lho,’’ ucap Pam. Sebagai gantinya, konser daring bertajuk The End of Flying Solo Era diadakan pada 30 Mei lalu.

Rupanya, itu menjadi blessing in disguise. Penontonnya tak hanya berasal dari negara-negara Asia Tenggara sasaran Pamungkas. ’’Ada yang dari Jerman juga,’’ katanya. Dia pun berharap pandemi segera berakhir agar bisa manggung secara langsung dan bertemu fans lagi.

---

FUN FACTS PAM


  • Sering dibilang mirip komedian Ence Bagus. Bahkan, Ence menjadi salah seorang ’’bintang tamu’’ di konser virtual The End of Flying Solo Era.

  • Sempat belajar bahasa bibir saat masih separuh tuli, tanpa diberi tahu bahwa dia separuh tuli. ’’Sebenarnya bisa dengar sih. Cuma, kalau ngomong sama orang yang pakai penutup mulut, saya sering nggak denger,’’ jelas Pamungkas.

  • Artwork album Walk the Talk merupakan hasil dari penyelesaian tugas kuliah saat Pam menjadi mahasiswa DKV Universitas Paramadina.

  • Menjalin hubungan dengan Cantika GAC, namun sudah usai.


 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=EY2MuF6hJzw

https://www.youtube.com/watch?v=b1v9WPCX1d4

https://www.youtube.com/watch?v=NluhTL5cAKk

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore