Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Juli 2019 | 00.06 WIB

Film Dua Garis Biru Mampu Sajikan Pesan Mendalam dengan Apik

LEWATI BATAS: Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) menghadapi masalah besar karena kesalahan yang mereka buat. (Starvision) - Image

LEWATI BATAS: Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) menghadapi masalah besar karena kesalahan yang mereka buat. (Starvision)

JawaPos.com - Sempat mendapat petisi sebelum tayang, film Dua Garis Biru berbeda dengan yang dipikirkan sebagian orang. Bukan film yang tak layak tonton. Sebaliknya, pesan yang dalam bisa tersajikan dengan baik.

---

Gina S. Noer membuktikan tak hanya lihai di penulisan naskah. Istri Salman Aristo itu juga membuktikan kapasitasnya sebagai sutradara dalam film debutnya ini. Gina langsung memainkan isu yang sensitif. Hamil di luar nikah pada remaja.

Dua Garis Biru mengisahkan sepasang remaja SMA bernama Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48). Mereka dimabuk cinta hingga melampaui batas yang berakibat pada kehamilan Zara. Tenang, itulah latar belakang ceritanya. Tak ada adegan yang dikhawatirkan banyak orang menjadi vulgar dan tak cocok ditonton anak di bawah umur.

Angga dan Zara mengakui, bagian tersebut sulit untuk mereka perankan. Yakni, mengondisikan agar tindak-tanduk sebagai karakter Bima dan Dara tak dicontoh di kehidupan nyata. Atau, memantik kontroversi baru. ’’Kami enggak boleh salah dalam menampilkan ini. Kalau salah menyampaikan, bisa diterima salah juga,’’ ungkap Angga ketika ditemui saat gala premiere di Epicentrum Walk.

Toh, pada akhirnya mereka berdua mampu menampilkan akting apik. Zara apalagi. Sejak aktingnya sebagai Euis di Keluarga Cemara yang dirilis pada Januari lalu, member JKT48 itu makin menunjukkan kemampuan berakting.

Konflik setelah Dara diketahui hamil pun berjalan runut. Gina menampilkannya dengan detail. Baik secara tahapan waktu maupun konflik-konflik yang muncul. Pada bagian akhir, Gina memberikan open ending yang sangat berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat. Namun, memang itulah yang dia harapkan sebagai sutradara. ’’Saya harap ini bisa menjadi bahan diskusi. Saya tidak berharap orang akan melihat akhir film ini sebagai solusi terbaik. Ini hanya satu di antara banyak kemungkinan,’’ jelasnya.

Selain memberikan ruang diskusi bagi penonton, skenario Dua Garis Biru mengangkat hal lain. Tentang pentingnya sex education kepada remaja. Lewat paparan konflik yang seimbang antara si remaja dan keluarga mereka, Gina berhasil menunjukkan bahwa pendidikan seks bukan hal tabu, tetapi perlu.

Naskah film itu sebetulnya ditulis Gina sejak 2009. Draf pertama direvisi. Namun, hasil revisinya tak kunjung rampung. Meski memakan waktu lama, dia bersyukur punya cukup waktu untuk mematangkan cerita dengan isu sepenting itu. ’’Sembilan tahun itu bukan waktu yang terlalu lama juga karena saya juga punya cukup pengalaman sebagai orang tua,’’ katanya.

Akhirnya, sebagai penyempurna naskah, Gina memasukkan sudut pandangnya sebagai orang tua. Babak cerita menempatkan Bima dan Dara sebagai remaja yang tetap mendapat perhatian keluarga. Itulah daya tarik cerita. ’’Kesalahan bisa saja terjadi. Namun, sebuah keluarga harus tetap memberdayakan anak-anaknya,’’ tutur Gina.

Dua Garis Biru tak hanya bisa dinikmati penonton remaja. Orang dewasa yang sudah memiliki anak pun bisa nyambung. Selain bisa melihat masalah dari sudut pandang remaja, penonton mendapat insight tentang sebuah keluarga menyikapi kehamilan di luar nikah.

Photo

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore