Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Desember 2021 | 16.58 WIB

Tatapan Perempuan, Lokalitas, dan Interseksionalitas dalam Film Yuni

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Perjuangan panjang perempuan menuntut penetapan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tampaknya belum menemui jalan terang. Justru belakangan berita-berita tentang betapa ruang hidup kita tidak aman bagi perempuan semakin menyeruak, menampilkan fenomena gunung es yang masih perlu untuk terus disingkap. Sementara jurnalisme bekerja untuk memberitakan fakta dan mendorong institusi hukum untuk bertindak, bagaimana seni bisa berkontribusi dalam upaya membangun kesadaran bersama untuk menciptakan ruang hidup yang aman dan setara?

---

MENYAKSIKAN film ”Yuni” karya sutradara Kamila Andini membuat saya menemukan celah jawaban. Sebagai orang yang bekerja dalam wilayah seni, film ini meyakinkan saya kembali bahwa seni dapat menjadi cara untuk mendorong terciptanya percakapan dan mendobrak tabu-tabu pembicaraan dalam kehidupan kita sehari-hari tentang gender, seksualitas, serta bagaimana relasi kuasa bekerja di dalamnya. Bersama Yuni, para perempuan Indonesia bisa memproyeksikan realitas dirinya –kegamangan atas upaya meraih kebebasan individual dan menegosiasikan tekanan sosial– serta pada saat yang sama membangun mimpi bersama tentang dunia yang lebih berpihak pada perempuan. Bersama Yuni, para perempuan merefleksikan dan mengkritisi kembali ruang hidup mereka, termasuk bagaimana seharusnya, seperti yang ditampilkan Yuni dan teman-temannya, persaudaraan perempuan adalah strategi kekuatan yang ampuh untuk melawan tekanan masyarakat.

Film ini mengambil setting kehidupan masyarakat di kota pinggiran, yaitu Serang, wilayah perbatasan Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Yuni hidup di tengah kampung padat penduduk dalam sebuah kota yang ”menikmati” laju industri –menawarkan peluang bekerja di pabrik atau ekonomi sampingan dari pembangunan infrastruktur industri– tapi pada saat yang bersamaan terjadi pemiskinan struktural akibat hilangnya lahan-lahan sumber kehidupan. Dalam banyak dialog, disebutkan tatanan Islami mulai menjadi pijakan bagi berbagai institusi formal seperti sekolah atau negara, sementara kepercayaan atas mitos juga dipegang sama kuatnya dalam keseharian masyarakat. Menghadapi berbagai situasi yang kontradiktif itulah, para perempuan menjadi semakin terpinggir dan terdesak, dan pelan-pelan mesti membunuh impian mereka atas kedaulatan diri dan kehidupan yang lebih baik. Dalam percakapan keseharian tokoh-tokohnya, kita mendengar bagaimana pernikahan, kekerasan, pengabaian, semua merupakan hal yang kemudian dinormalisasi dan dianggap wajar.

Lokalitas menjadi poin penting dalam film ini dan karena itu, realisme dalam film ini menemukan kewajarannya. Pilihan untuk menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa utama film membuat para tokoh seperti menghidupkan drama keseharian mereka sendiri. Lokalitas juga membuat gaya hidup remaja dalam film ini jauh dari kesan stereotipikal, hal yang kerap mengganggu saya dalam film Indonesia. Yuni menghadapkan kita pada realitas bahwa proses transisi menjadi remaja sangatlah kompleks dan tidak tunggal, dan sangat dipengaruhi konstruksi sosial: keluarga, sekolah, informasi dari media sosial, pertemuan acak dengan orang-orang asing. Tokoh-tokoh seperti kepala sekolah dan Bu Kokom adalah penjaga konvensi sosial yang melihat perempuan sebagai warga negara kelas dua dan dibingkai dalam peran reproduktif dan domestiknya saja. Sementara Suci, Pak Damar, berada dalam kegamangan antara melawan dan mencari kebahagiaannya, tetapi terancam terbuang dari lingkungannya. Yang lokal ini juga muncul ketika Yuni dan teman-temannya berlatih debus, atau salon Suci yang berada di tengah pasar, lengkap dengan lampu-lampu dan hiasan kitsch-nya yang nyaris sureal.

Ironi demi ironi terdengar seperti palu; ambiguitas adalah napas yang diembus setiap hari oleh para tokoh. Si nenek menyanyi karaoke sambil merokok dengan santainya, tetapi tak lupa mengenakan jilbab di kepalanya. Atau Pak Damar yang mengeja puisi-puisi Sapardi untuk menemukan kebebasan, tetapi memilih berdamai dengan konvensi. Menjadi queer dan mengekspresikan identitas gender dengan jujur memang seperti tak ada dalam daftar pilihan hidup dalam konteks itu.

Aspek penting dari film ini adalah ”tatapan perempuan” (female gaze) yang berhasil ditunjukkan Kamila Andini sebagai metode. Film ini membingkai seksualitas perempuan sebagai pengalaman tubuh yang riil, yang subjektif, dan tidak dilebih-lebihkan sebagai objektifikasi pandangan laki-laki. Adegan intim para perempuan ditampilkan Kamila sebagai ruang untuk merebut kesadaran atas tubuh, pengakuan atas hasrat, yang sama berharganya dengan gairah laki-laki yang biasanya mendominasi gambaran seksualitas dalam industri film. Percakapan antara Yuni dan teman-temannya menunjukkan bagaimana tatapan Kamila sebagai sutradara menunjukkan bagaimana ia merawat fenomena personal dan sosial sebagai tindakan politis, bahwa solidaritas dan persaudaraan perempuan adalah strategi paling jitu untuk menghadapi kompleksitas sistem dan struktur sosial yang sulit ditembus hanya dengan perjuangan individual. Saya kira, sebagai sutradara inilah capaian penting Kamila Andini: memberi ruang bagi para pemeran menempatkan diri sebagai subjek dengan kekuatan agensinya untuk melawan stereotipe konstruksi industri film yang patriarkis.

Dengan menggarisbawahi lokalitas dan solidaritas, ”Yuni” membawa kita pada kesadaran interseksionalitas: bahwa feminisme tidaklah tunggal. Pengalaman Yuni barangkali banyak terjadi dalam berbagai konteks kebudayaan, tetapi situasi-situasi lokal membuat problem dan tantangan yang dihadapi berbeda karena melibatkan politik lokasi dan pranata sosial yang berbeda pula. Film ini menjadi ode untuk kita terus berbicara tentang Novia, tentang santri-santri yang menjadi korban kekerasan seksual di berbagai pesantren, tentang semua perempuan yang masih berjuang untuk kehidupan yang lebih aman. Di masa depan, semoga ”Yuni” menginspirasi para pencipta dan pembuat karya untuk terus melihat aspek interseksionalitas dan lokalitas ini untuk keluar dari stereotipe-stereotipe yang sering menjadi problem besar dalam bahasa seni kita. (*)

---

*) ALIA SWASTIKA, Penulis dan kurator seni

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore